Menghadapi anak tantrum di butuhkan ketenangan yang exstra

Jurnalindo.com, – Psikolog Anak dan Remaja dari Institut Psikologi Terapan (UI) Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana mengatakan, orang tua perlu lebih tenang menghadapi anak yang sedang mengalami tantrum atau ledakan emosi akibat masalah emosi.

“Langkah pertama adalah menyadari perasaan anak. Oh, dia marah, dia mulai berteriak, dia mulai berguling. Kemudian langkah selanjutnya orang tua juga harus sadar diri. Kalau ternyata perasaan kita terpancing, itu penting untuk mengambil tindakan,” kata Vera di Jakarta, Rabu. “Sedikit waktu untuk menenangkan diri.”

Sembari mencoba untuk menenangkan diri, orang tua bisa memindahkan situasi tantrum anak ke lokasi yang lebih aman.

Baca Juga: Beberapa Tips megatasi anak tantrum

Vera mencontohkan jika situasinya anak tantrum di tempat terbuka dan ramai dengan orang, maka orang tua bisa membawa anak ke tempat yang lebih sepi sehingga ledakan emosi yang dialami anak tersebut tidak mengganggu orang lain.

Setelah anak mulai tenang, orang tua yang sudah tenang dan netral secara emosi bisa mulai membantu anak untuk memahami emosi yang dirasakan.

“Ini langkah yang penting agar tantrumnya berkurang. Jelaskan pada anak emosi yang dirasakannya dengan kata-kata. Misal ketika anak teriak-teriak karena mainannya tidak dibelikan, orang tua bisa menjelaskan emosi yang dialami anak itu disebut dengan marah,” ujar Vera.

Ketika anak bisa mengetahui jenis emosinya, orang tua bisa melanjutkan langkah berikutnya dengan memberitahu bahwa emosi tersebut ada dan orang tua bisa memahaminya.

Sebagai langkah terakhir orang tua juga bisa memandu anak untuk menyalurkan emosi itu dengan cara yang tepat.

Baca Juga: Cara Mengatasi Anak Tantrum
Misalnya ketika anak marah karena keinginannya tidak terpenuhi, ia bisa memberitahu pada ibunya dengan berbicara seperti biasa “Saya sedang marah”.

Cara itu akan membantu anak menjadi terbiasa menyampaikan emosinya tanpa perlu melakukan hal tidak menyenangkan seperti melempar barang atau berteriak-teriak.

“Langkah-langkah ini perlu dilakukan berulang kali. Dengan begitu lambat laun anak pun bisa menemukan cara untuk mengekspresikan emosinya dengan lebih baik tanpa perlu mengalami tantrum,” tutup Vera. (Nada/Ara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *