Oleh: MF. Hasan
Jurnalindo.com, – Malam pergantian tahun selalu memiliki daya magis tersendiri. Ia menghadirkan jeda di tengah hiruk-pikuk kehidupan, mengajak manusia berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang sekaligus memandang ke depan. Dalam tradisi Islam, pergantian Tahun Baru Hijriah bukan sekadar perpindahan angka dalam kalender. Ia adalah momentum spiritual yang mengingatkan umat pada sebuah peristiwa besar: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah perjalanan yang mengubah arah sejarah peradaban Islam.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, manusia sering kali lebih pandai menghitung keuntungan daripada menghitung kekurangan dirinya. Kita hafal jadwal pekerjaan, agenda rapat, bahkan tenggat berbagai urusan duniawi, tetapi sering lupa bertanya: sudah sejauh mana hidup ini berjalan menuju kebaikan? Pertanyaan sederhana itulah yang sesungguhnya menjadi ruh dari pergantian Tahun Baru Hijriah.
Menghitung Ulang Perjalanan Hidup
Doa akhir tahun yang dibaca umat Islam bukan sekadar rangkaian kalimat permohonan ampun. Ia adalah pengakuan jujur bahwa selama setahun yang berlalu, ada banyak kesalahan yang mungkin dilakukan. Ada amanah yang belum ditunaikan dengan baik, ada hati yang pernah disakiti, ada pula kesempatan berbuat baik yang terlewat begitu saja. Kesadaran semacam ini penting karena perubahan selalu diawali oleh kemampuan mengakui kekurangan diri sendiri.
Al-Qur’an memberikan tuntunan yang sangat jelas mengenai hal tersebut. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr [59]:18). Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini mengandung perintah untuk melakukan evaluasi diri secara terus-menerus agar manusia tidak terjebak dalam rutinitas yang menjauhkannya dari tujuan hidup yang hakiki (Shihab, 2007).
Karena itu, Tahun Baru Hijriah sesungguhnya bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia adalah momentum muhasabah. Momentum untuk menghitung ulang perjalanan hidup yang telah ditempuh. Sebab waktu adalah satu-satunya anugerah yang tidak dapat diputar kembali. Apa yang telah berlalu akan tetap menjadi masa lalu.
Hasan al-Bashri pernah mengingatkan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Ketika satu hari berlalu, maka berkurang pula bagian dari dirimu.” Ungkapan yang dikutip Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin itu terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern yang sering membuat manusia lupa bahwa usia terus bergerak menuju batas akhirnya (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin).
Doa sebagai Energi Perubahan
Setelah menoleh ke belakang melalui doa akhir tahun, Tahun Baru Hijriah juga mengajarkan pentingnya menatap masa depan dengan hati yang penuh harapan. Karena itu, dalam tradisi masyarakat Muslim, pergantian tahun sering diiringi dengan pembacaan doa akhir tahun dan doa awal tahun. Doa akhir tahun menjadi ruang batin untuk mengakui segala kekhilafan, memohon ampun atas dosa-dosa yang disadari maupun yang luput dari ingatan, sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang telah menyertai perjalanan hidup selama setahun. Sementara doa awal tahun dipanjatkan sebagai ungkapan harapan agar hari-hari yang akan datang dipenuhi keberkahan, keselamatan, serta bimbingan Allah dalam menapaki kehidupan yang penuh tantangan.
Di sinilah makna doa menemukan kedalaman spiritualnya. Doa bukan sekadar rangkaian kalimat yang dilafalkan di bibir, melainkan ikrar batin untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Setiap permohonan yang dipanjatkan sesungguhnya mengandung komitmen untuk berubah. Sebab, tidaklah cukup seseorang memohon kehidupan yang lebih baik, keluarga yang lebih harmonis, atau masyarakat yang lebih damai, jika pada saat yang sama ia enggan memperbaiki sikap dan perilakunya. Dengan demikian, doa akhir tahun dan doa awal tahun bukan hanya menjadi ritual pergantian kalender, melainkan momentum meneguhkan tekad hijrah: meninggalkan kebiasaan yang buruk, memperkuat amal kebajikan, serta menapaki tahun yang baru dengan semangat, harapan, dan kesadaran yang lebih matang.
Dalam perspektif Islam, doa selalu berjalan beriringan dengan ikhtiar. Karena itu, ketika seseorang memohon keberkahan rezeki, ia dituntut bekerja dengan jujur. Ketika memohon keluarga yang harmonis, ia harus belajar menjadi pribadi yang sabar. Ketika memohon masyarakat yang damai, ia harus memulai dari dirinya sendiri dengan menjaga ucapan dan perilaku. Sebagaimana dijelaskan oleh Quraish Shihab, doa merupakan bentuk pengakuan atas keterbatasan manusia sekaligus dorongan spiritual untuk melakukan perubahan yang nyata (Shihab, 2007).
Hijrah yang Kita Butuhkan Hari Ini
Makna perubahan itu tercermin dalam peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW yang menjadi dasar penanggalan Islam. Menariknya, para sahabat tidak menjadikan kelahiran atau wafat Nabi sebagai awal kalender Islam. Mereka memilih peristiwa hijrah karena hijrah melambangkan perjuangan dan transformasi. Dari situasi penuh tekanan menuju kehidupan yang lebih bermartabat.
Karena itu, hijrah tidak boleh dipahami hanya sebagai perpindahan fisik atau perubahan simbolik semata. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa hijrah sejati berlangsung di dalam diri manusia, jauh sebelum tampak pada penampilan luarnya.
Dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks, makna hijrah perlu dipahami lebih luas daripada sekadar perpindahan fisik. Hijrah yang paling mendesak saat ini adalah perubahan cara pandang dan cara bersikap dalam kehidupan bermasyarakat. Kita membutuhkan keberanian untuk meninggalkan kebiasaan saling menyalahkan dan merendahkan, lalu menggantinya dengan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan. Sebab, masyarakat yang sehat tidak dibangun oleh keseragaman, melainkan oleh kemampuan warganya untuk hidup berdampingan di tengah keberagaman.
Lebih jauh, semangat hijrah juga menuntut pergeseran dari sikap yang terlalu berpusat pada diri sendiri menuju kepedulian terhadap sesama. Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, prasangka serta penilaian sepihak kerap berkembang lebih cepat daripada kebenaran. Karena itu, hijrah sosial berarti membangun kembali ruang persaudaraan, memperkuat empati, dan menumbuhkan kepercayaan di antara sesama. Dengan demikian, Tahun Baru Hijriah tidak hanya menjadi momentum pembaruan spiritual, tetapi juga kesempatan untuk merawat harmoni sosial yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Merawat Kebersamaan di Tengah Zaman
Kondisi tersebut terasa penting di tengah kehidupan masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh media sosial. Ruang digital yang semestinya menjadi sarana silaturahmi sering berubah menjadi arena pertengkaran. Perbedaan pandangan politik, organisasi, bahkan persoalan keagamaan kerap melahirkan permusuhan yang berkepanjangan. Padahal, bangsa ini dibangun di atas fondasi gotong royong dan kebersamaan.
Bagi masyarakat Pantura, termasuk Kabupaten Pati dan sekitarnya, nilai-nilai kebersamaan sebenarnya masih dapat ditemukan dalam berbagai tradisi lokal. Kenduri, tahlilan, sedekah bumi, pengajian kampung, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan merupakan ruang yang mempertemukan warga tanpa memandang latar belakang sosial maupun ekonomi. Tradisi-tradisi tersebut menjadi modal sosial yang penting untuk menjaga kohesi masyarakat di tengah arus individualisme modern. Nurcholish Madjid menyebut bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan material, tetapi juga oleh kualitas moral dan solidaritas sosial warganya (Madjid, 1992).
Menulis Lembaran Baru
Pada akhirnya, pergantian tahun tidak akan membawa perubahan apa pun jika manusia tidak mengubah dirinya sendiri. Kalender boleh berganti, usia boleh bertambah, tetapi semua itu akan kehilangan makna apabila perilaku tetap sama. Sebaliknya, satu langkah kecil menuju kebaikan sering kali lebih berarti daripada seribu resolusi yang hanya berhenti sebagai wacana.
Ketika azan Magrib berkumandang menandai datangnya 1 Muharam, sesungguhnya yang berubah bukan hanya angka tahun. Yang bertambah bukan sekadar usia, melainkan juga tanggung jawab. Yang berkurang bukan hanya waktu, tetapi juga jatah kehidupan yang diberikan Allah kepada kita.
Maka, di antara doa akhir tahun dan doa awal tahun, terdapat ruang bernama harapan. Dan di antara harapan itu, terdapat jalan bernama hijrah. Sebuah perjalanan panjang yang tidak selalu mudah, tetapi selalu layak diperjuangkan.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak diukur dari seberapa lama ia hidup, melainkan seberapa bermakna hidup yang dijalaninya. (Jurnalindo.com)











