Oleh : Ulin Nuha (Guru Madrasah)
Jurnalindo.com, Pati – Pendidikan di belahan dunia mana pun tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan. Sebagai faktor kunci peradaban, keberhasilan pendidikan adalah cermin dari martabat sebuah bangsa. Oleh karena itu, sudah selayaknya pemerintah mengevaluasi sistem pendidikan kita berdasarkan *kontinuitas program* dan *relevansi zaman*, bukan sekadar terjebak dalam siklus “ganti menteri, ganti kurikulum” yang telah terjadi selama beberapa dekade terakhir.
Perubahan kurikulum memang penting, namun jika tidak dilandasi oleh kebijakan yang mengakar pada aspek historis, maka inovasi tersebut hanya akan menguap tanpa bekas.
*Menggali Khazanah Lokal*
Indonesia memiliki corak unik dalam mengembangkan kultur pendidikan. Sebagaimana yang pernah dikutip oleh KH. Agus Sunyoto mengenai pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Dr. Sutomo pada tahun 1936, mereka menyatakan bahwa:
“Sistem pendidikan nasional yang paling cocok untuk bangsa Indonesia adalah sistem Pesantren.”
Artinya, model pendidikan yang menekankan siswa untuk mukim di asrama adalah khazanah asli kita. Ironisnya, saat ini dunia Barat mengadopsi sistem ini dengan istilah modern *”Boarding School“*, sementara di tanah air sendiri, kita seolah lebih bangga melakukan westernisasi pendidikan yang belum tentu menjamin keberhasilan implementasi pendidikan secara *kaffah* (menyeluruh).
*Menuju Sintesis Ideal*
Memang benar bahwa perkembangan Barat menjadi acuan dalam kemajuan teknologi, namun teknologi hanyalah alat, bukan ruh dari pendidikan itu sendiri. Idealnya, sistem pendidikan kita harus tetap berpijak pada dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Dr. Sutomo dengan menerapkan model asrama/pesantren, sembari menyerap kemajuan metodologi dari Barat.
Prinsip ini selaras dengan kaidah:
“Al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wal akhdu bi al-jadidil ashlah”
(Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik).
Sudah saatnya Indonesia berhenti mengekor secara buta dan mulai percaya diri dengan prototipe pendidikannya sendiri: sebuah sistem yang tidak hanya mencetak manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara karakter dan beradab dalam tindakan. (Jurnalindo.com)











