Jurnalindo.com, – Populasi sapi di Kabupaten Pati mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir sejak merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Dinas Pertanian Kabupaten Pati mencatat jumlah populasi sapi yang sebelumnya mencapai hampir 100 ribu ekor kini tersisa sekitar 60 ribu ekor.
Kepala Bidang Peternakan Dispertan Pati, Andi Hirawadi mengatakan penurunan populasi terjadi cukup tajam dibanding kondisi sebelum wabah PMK melanda.
“Kalau sebelum ada kasus PMK, sekitar tahun 2019 sampai 2020, populasi sapi kita hampir 100 ribuan. Sekarang sekitar 60 ribuan,” ujarnya, Senin (18/05/2026).
Menurut Andi, turunnya populasi sapi bukan semata karena kematian ternak akibat PMK, tetapi juga karena banyak peternak yang trauma dan enggan kembali memelihara sapi.
“Banyak masyarakat mulai enggak berani memelihara lagi karena trauma kasus sebelumnya. Nilai ekonomis sapi kan tinggi, jadi mereka takut rugi,” jelasnya.
Meski pemerintah terus melakukan edukasi dan vaksinasi PMK secara berkala, kata Andi, kekhawatiran peternak masih cukup besar. Namun belakangan kondisi mulai berangsur membaik seiring naiknya harga jual sapi di pasaran.
“Sekarang sudah mulai ramai lagi karena harga sapi juga bagus. Mulai menggeliat lagi untuk beternak,” katanya.
Ia menyebut harga sapi mengalami kenaikan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per ekor dibanding hari biasa. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu faktor yang mulai mendorong masyarakat kembali tertarik beternak sapi.
Sementara itu, kondisi berbeda justru terjadi pada komoditas kambing. Harga kambing disebut mengalami penurunan dibanding tahun lalu.
“Kalau kambing malah turun. Tahun kemarin sekitar Rp3,5 juta, sekarang Rp3 juta sudah dapat yang lumayan,” ungkapnya.
Meski demikian, dibanding harga normal di luar momentum Idul Adha, harga kambing tetap mengalami sedikit kenaikan sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per ekor. (Juri/Jurnal)











