Santri Didorong Jadi Entrepreneur, LPNU Jateng Gelar Bimtek Olahan Lele di Pati

Jurnalindo.com, – Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PWNU Jawa Tengah menggandeng Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemberdayaan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren). Kegiatan ini dipusatkan di Auditorium Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Kabupaten Pati, pada Jumat-Sabtu (17–18/4/2026).

Fokus pelatihan nggak setengah-setengah: diversifikasi olahan ikan lele. Dari yang biasanya cuma dijual mentah, didorong naik kelas jadi produk hilir kayak abon, nugget, sampai olahan siap saji yang lebih “marketable”.

Sebanyak 40 perwakilan Kopontren se-Kabupaten Pati ikut ambil bagian. Targetnya jelas: koperasi bukan cuma jadi alat ekonomi, tapi juga “laboratorium sosial” buat santri belajar bisnis dari nol sampai jalan.

Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), menekankan bahwa santri harus mulai berani masuk ke dunia wirausaha, khususnya sektor riil seperti pertanian dan perikanan.

“Harapannya santri-santri tergugah memiliki kesadaran untuk bersedia menjadi entrepreneur pertanian, perikanan, dan itu jadi fondasi kemandirian, baik personal maupun pesantren,” ujarnya.

Nada yang sama disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Ia mengingatkan agar ilmu dari bimtek ini nggak berhenti di peserta saja.

“Harus ditularkan ke unit usaha lain di pesantren. Biar usahanya jalan terus, istiqomah, dan berkembang,” kata Gus Yasin.

Menurutnya, kunci lain ada di teknologi. Image pertanian dan peternakan yang sering dianggap “kurang keren” bisa diubah kalau dikemas dengan pendekatan modern dari budidaya sampai packaging.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa santri juga perlu dibekali skill manajemen dan pengembangan diri, bukan cuma fokus pada pengabdian (khidmah).

“Bukan hanya khidmah, tapi manajemen serta skill pribadi juga perlu dikembangkan. Harapannya saat pulang, ilmunya bisa diteruskan dan jadi berkah,” tambahnya.

Pemprov Jateng sendiri terlihat serius. Saat ini sudah ada 12 titik kegiatan serupa yang digarap bareng PWNU Jawa Tengah dan kemungkinan bakal terus nambah.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng, Eddy Sulistiyo Bramiyanto, menjelaskan bahwa program ini bagian dari strategi besar meningkatkan produktivitas 113 pesantren yang sudah didata.

“Kami dorong dari hulu ke hilir. Lele tidak hanya dibudidayakan, tapi diolah jadi produk bernilai tambah. Harapannya, omzet naik dan sistem usahanya makin modern,” jelasnya. (Juri/Jurnal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *