Rakyat Pati, Pos Pati Ora Sepele Bawa Isu Rob, Agraria hingga Ketimpangan Sosial ke Alun-Alun

Jurnalindo.com, – Pati Ora Sepela (POS) menggelar rembug warga sebagai bagian dari refleksi satu tahun gerakan masyarakat Pati. Forum tersebut membahas sejumlah persoalan yang dinilai masih menjadi kegelisahan warga, mulai dari bencana geologi, persoalan agraria, hingga ketimpangan sosial.

Rembug warga digelar di Warung Kopi Leste, Desa Keboromo, Kecamatan Tayu, pada 12 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi rangkaian refleksi atas gerakan masyarakat yang telah berlangsung selama satu tahun sejak 13 Agustus 2025.

Ketua Pos Pati Ora Sepela, Harno, mengatakan forum tersebut menjadi ruang untuk mengevaluasi berbagai perjuangan masyarakat Pati selama setahun terakhir.

“Agenda kita hari ini adalah diskusi atau rembug warga, yaitu terkait dengan evaluasi gerakan masyarakat Pati atau perjuangan masyarakat Pati selama satu tahun ini,” ujar Harno.

Menurutnya, rangkaian kegiatan refleksi telah dimulai sehari sebelumnya dengan mengangkat persoalan agraria di Desa Karangsari, Kecamatan Cluwak. Sementara dalam rembug warga di Tayu, pembahasan diperluas pada persoalan bencana geologi dan ketimpangan sosial.

Harno menyebut sejumlah warga dari wilayah Kecamatan Tayu turut menyampaikan persoalan yang mereka alami, khususnya masyarakat yang terdampak bencana seperti rob dan banjir.

“Tema hari ini yang kita usung yaitu terkait dengan masalah bencana geologi, yaitu rob, banjir, dan lain sebagainya. Yang kedua, terkait dengan ketimpangan sosial,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, Pos Pati Ora Sepela juga menghadirkan sejumlah organisasi dan jaringan masyarakat dari luar daerah. Di antaranya terdapat organisasi dari Yogyakarta Fight Inequality Alliance (FIA) Indonesia serta sejumlah pihak dari Jakarta.

Harno mengatakan pihaknya sebelumnya juga berencana menghadirkan Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Center of Economic and Law Studies (Celios), namun keduanya berhalangan hadir.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan panggung rakyat pada malam harinya. Kegiatan tersebut tetap membawa pesan mengenai keadilan sosial, hukum, ekonomi, serta berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Puncak rangkaian refleksi dijadwalkan berlangsung di Alun-Alun Kabupaten Pati. Aspirasi yang muncul dalam rembug warga akan dibawa untuk disampaikan kepada DPRD maupun pemerintah daerah.

“Dari hasil rembuk ini tadi ada kegelisahan-kegelisahan dari masyarakat terkait dengan masalahnya masing-masing yang sudah kita catat. Besok akan kita sampaikan kepada pihak DPRD maupun eksekutif,” kata Harno.

Harno menegaskan refleksi satu tahun gerakan tersebut merupakan bentuk kesadaran masyarakat untuk memperjuangkan keadilan sosial, ekonomi, hukum, dan politik.

Ia menilai persoalan keadilan yang dirasakan masyarakat tidak boleh dibiarkan begitu saja. Menurutnya, masyarakat perlu bangkit dan bersama-sama menyampaikan hak serta tuntutannya kepada pemangku kebijakan.

“Refleksi ini adalah bentuk kesadaran kami sebagai masyarakat yang selama ini atas rasa keadilan sosial, ekonomi, hukum, politik, dan lain sebagainya yang semakin tambah hari semakin tambah dimatikan,” ujarnya.

Harno mengatakan massa dari Tayu direncanakan berangkat menuju Alun-Alun Pati sekitar pukul 08.00–09.00 WIB. Setibanya di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB, mereka akan bergabung dengan organisasi masyarakat lainnya.

Sejumlah isu yang telah dibahas dalam rangkaian rembug warga akan disampaikan kepada para pemangku kebijakan.

“Sekiranya semua itu agar bisa direspons, sehingga harapan dan perjuangan rakyat ini betul-betul bisa diapresiasi dan bisa diwujudkan bareng-bareng,” pungkasnya. (Juri/Jurnal)