Jurnalindo.com, – Yayasan Soerowikromo kembali menggelar Haul ke-4 Bupati Juwana yang dimakamkan di Astana Kanjengan Kajen yang diperingati setiap tanggal 30 Syuro atau 30 Muharam.
Kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahun ini mengusung tema “Merajuk Mempersatukan Sedoyo Putu Wayah Kanjeng Bupati Juwana” sebagai upaya mempererat tali silaturahmi seluruh keturunan Kanjeng Bupati Juwana
Bendahara Yayasan Soerowikromo, Puji Kismiyati, mengatakan dua Bupati Juwana yang dimakamkan di Astana Kanjengan Kajen adalah Kyai Kanjeng Setjodirono, Bupati Juwana ke-13 yang menjabat pada 1748–1760, dan putranya, Kyai Kanjeng Soerowikromo, yang memimpin pada 1760–1790.
“Keduanya merupakan bapak dan anak yang sama-sama pernah menjabat sebagai Bupati Juwana dan dimakamkan di Astana Kanjengan Kajen,” ujarnya saat diwawancarai awak media di lokasi, pada Rabu (15/07/2026).
Ia menjelaskan, makam Bupati Juwana lainnya tersebar di sejumlah lokasi, di antaranya Desa Growong Kidul, Pakuwon Juwana, Kabupaten Pati, hingga Jepara.
Sementara itu, haul di Astana Kanjengan Kajen secara khusus ditujukan untuk mengenang dua Bupati Juwana yang dimakamkan di lokasi tersebut dan tahun ini memasuki penyelenggaraan keempat.
Menurut Puji, rangkaian acara puncak akan diawali dengan kirab budaya yang berlangsung usai salat Isya, mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Kirab tersebut akan melibatkan sekitar 1.000 hingga 1.100 peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat.
“Kami mengundang budayawan dari Kabupaten Pati, Kudus, dan Jepara. Selain itu ada peserta dari Permadani Pati, masyarakat sekitar, serta pelajar SMK Cordova yang turut dilibatkan dalam kirab budaya,” katanya.
Ia menuturkan, kirab akan mengedepankan nilai-nilai budaya Jawa tempo dulu. Salah satu prosesi yang menjadi daya tarik adalah penyematan pusaka sebagai simbol penghormatan terhadap warisan leluhur.
Selain kirab budaya, haul juga diisi dengan berbagai kegiatan religius dan pelestarian budaya, seperti jamasan pusaka, khotmil Al-Qur’an bil Ghoib, lelang klambu, serta pengajian sebagai penutup rangkaian acara.
Dalam kirab tersebut, sejumlah pusaka berupa keris, tombak, hingga air panguripan diperlihatkan kepada masyarakat. Seluruh prosesi akan diiringi lantunan sholawat yang dipadukan dengan gending Jawa sebagai bentuk harmonisasi antara syiar Islam dan pelestarian budaya lokal.
Puji menambahkan, meski Haul Akbar Bupati Juwana I hingga XI diselenggarakan setiap bulan Ruwah di Astana Jatisari, Juwana, masyarakat Juwana beserta para keturunan atau putu wayah tetap dilibatkan dalam penyelenggaraan haul di Astana Kanjengan Kajen sebagai wujud menjaga persatuan dan melestarikan sejarah para pemimpin Juwana. (Juri/Jurnal)











