Jurnalindo.com, – Tekanan biaya produksi kembali menghantam pelaku UMKM. Kali ini dipicu lonjakan harga plastik pembungkus tempe yang memaksa perajin mencari cara bertahan tanpa kehilangan pelanggan.
Siti Nafiah (58), warga Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, menyebut kenaikan harga plastik kali ini sebagai yang tertinggi selama 20 tahun ia menjalankan usaha tempe.
“Harga plastik dari Rp12.500 sekarang jadi Rp18.000 per pak ukuran 7 ons. Baru kali ini naik setinggi ini,” ujarnya saat ditemui awak media di tempat produksi, pada Kamis (23/04/2026).
Dalam sehari, Siti memproduksi sekitar 8 kilogram tempe. Produk tersebut dijual dalam kemasan kecil dengan harga Rp2.000 per bungkus angka yang menurutnya sudah mentok untuk pasar pelanggan di sekitarnya.
Di tengah kondisi itu, menaikkan harga bukan pilihan. Risiko kehilangan pembeli dinilai terlalu besar.
“Kalau dinaikkan, pelanggan bisa lari. Jadi ya terpaksa ukuran tempenya dikurangi,” jelasnya.
Langkah ini memang terlihat sederhana, namun dampaknya tidak kecil. Di satu sisi, usaha tetap berjalan. Di sisi lain, ada risiko menurunnya kepercayaan konsumen jika perubahan ukuran dirasa terlalu signifikan.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata bagaimana usaha kecil dipaksa beradaptasi di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Bagi Siti, bertahan dengan harga lama meski ukuran dipangkas masih menjadi pilihan paling masuk akal saat ini.
Ia pun berharap harga plastik dapat kembali normal, agar kemasan tempe stabil dan pelanggan tetap merasa nyaman. (Juri/Jurnal)











