Jurnalindo.com, – Kenaikan harga kedelai pada April mulai menekan pelaku usaha kecil di Kabupaten Pati, khususnya perajin tahu dan tempe. Lonjakan harga bahan baku ini terjadi dalam waktu singkat dan langsung menggerus margin keuntungan.
Dion, perajin tahu asal Desa Wedarijaksa, Kecamatan Wedarijaksa, mengaku harga kedelai kini sudah menembus Rp10.600 hingga hampir Rp11.000 per kilogram. Padahal sebelum Ramadhan, harga masih berada di kisaran Rp9.000 per kilogram.
“Kenaikannya sekitar Rp1.600 sampai Rp1.700 per kilo. Lumayan berat,” ujarnya.
Meski biaya produksi naik, Dion belum berani menaikkan harga jual. Ia khawatir pelanggan akan beralih ke produk lain jika harga tahu ikut terdongkrak.
“Penjualan masih stabil, tapi keuntungan jelas menipis,” katanya.
Dalam sehari, Dion mengolah sekitar 70 kilogram kedelai menjadi 40 papan tahu. Setiap papan berisi sekitar 100 potong. Dengan skala produksi tersebut, kenaikan harga bahan baku langsung berdampak pada biaya operasional harian.
Dion menilai, kenaikan harga kedelai tidak lepas dari faktor global. Ia menyebut konflik geopolitik internasional ikut mempengaruhi distribusi dan harga komoditas pangan.
“Katanya dari berita, ada pengaruh konflik luar negeri seperti Amerika, Israel, dan Iran,” ujarnya.
Selain itu, ketergantungan Indonesia pada kedelai impor memperparah situasi. Pasokan kedelai mayoritas masih berasal dari negara Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina.
Upaya beralih ke kedelai lokal pun belum jadi solusi. Dion menyebut stok terbatas dan kualitasnya masih kalah dibanding impor.
“Barangnya susah dan kualitasnya belum bisa bersaing,” tambahnya.
Para perajin berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga. Menurut mereka, harga ideal kedelai berada di kisaran Rp9.000 per kilogram agar usaha tetap bisa berjalan sehat.
Kenaikan ini jadi alarm serius. Kalau dibiarkan, bukan cuma perajin yang kena dampak harga tahu dan tempe di pasaran bisa ikut naik, dan ujung-ujungnya masyarakat yang ikut menanggung. (Juri/Jurnal)











