Jelang Ramadan, Perajin Tembaga di Boyolali Banjir Pesanan

jurnalindo.com – Boyolali – Menjelang Ramadan, sejumlah perajin tembaga dan kuningan di Dukuh Tumang Desa/Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, kebanjiran pesanan dari berbagai daerah di Indonesia.

Sidik Murdoko (45), salah satu perajin tembaga di Tumang, Cemogo Boyolali, Senin, mengatakan, Ramadhan 1443 Hijriah ini mendatangkan berkah karena adanya peningkatan pesanan berbagai macam ornamen masjid produksi perajin asal Tumang Boyolali.

Sidik Murdoko mengaku mendapat pesanan ornamen masjid, lampu replika Masjid Nabawi, pintu, dan kubah. Pesanan tersebut berasal dari Magetan Jatim dan Aceh dengan masa pengerjaan waktu sekitar 2,5 bulan. Dirinya dibantu sebanyak 11 pekerja untuk menyelesaikan pesanan.

Dia mengatakan permintaan pasar sempat berkurang karena adanya pandemi, tetapi menjelang Bulan Suci Ramadhan ini, khusus untuk ornamen masjid, terdapat peningkatan. Biasanya ada satu hingga dua pesanan, saat ini tambahannya ada belasan pesanan.

“Meningkatnya tambahan permintaan kerajinan tembaga produksi asal Tumang Boyolali itu, kemungkinan karena berkah Ramadhan,” katanya.

Berdasarkan bahan baku yang didatangkan dari Surabaya, kata dia, harga setiap ornamen bervariasi. Untuk pintu, dia mematok harga Rp89 juta per unit, sedangkan replika lampu ditawarkan Rp96 juta per unit, kubah ukuran diameter dua meter senilai Rp23 juta per unit dan kubah ukuran diameter 1,5 meter seharga Rp21 juta.

Terpisah, Kepala Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo Mawardi mengungkapkan Tumang sudah lama dikenal sebagai penghasil kerajinan berbahan dasar tembaga dan kuningan yang bervariasi dan tahan lama.

Mawardi mengatakan semenjak pandemi COVID-19 merebak, para perajin mengalami penurunan pesanan. Namun kini, menjelang Ramadhan sudah ada peningkatan pesanan sekitar 50 persen.

“Perajin tembaga permintaan pasar pada awal 2022 itu, sudah mulai bagus ada kenaikan sekitar 50 persen dari pada saat awal-awal pandemi. Jadi sekarang untuk orderan sudah ada, geliat masyarakat sudah mulai jalan,” katanya.

Menurut dia, dari 2.000 perajin tembaga di Tumang Boyolali, terdapat 200 orang yang mampu membuka showroom dan menghidupi serta memutar roda perekonomian. Sebanyak 50 persen dari total penduduk Kecamatan Cepogo yang mencapai 9.000 jiwa ini, memilih kerajinan tembaga sebagai sumber penghasilan.

Terlebih kini, kerajinan tembaga Tumang di Dusun Tumang, Cepogo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.

“Hal ini, artinya, perlu upaya perlindungan, pengembangan, pembinaan dan pemanfaatan seni kriya logam Tumang,” katanya.

(ara/reno)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *