Retaknya Hubungan Jokowi-Megawati, Perbedaan Pandangan Politik Membuat Kedekatan Terusik

Hubungan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri kini dikabarkan mengalami retak (Sumber foto : Kompas.id)
Hubungan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri kini dikabarkan mengalami retak (Sumber foto : Kompas.id)

Jurnalindo.com, – Hubungan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri kini dikabarkan mengalami retak. Pemicunya, perbedaan pandangan politik terkait Pemilihan Presiden 2024.

Meski hingga saat ini Jokowi dan Megawati belum memberikan keterangan resmi mengenai retaknya hubungan mereka, sejumlah kegiatan dan sikap politik keduanya menunjukkan adanya ketidaksepakatan. Dalam beberapa kesempatan, terlihat Jokowi lebih condong mendukung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, sementara PDIP secara resmi mengusung pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

Salah satu momen yang menarik perhatian adalah kabar bahwa Jokowi mencoba berkomunikasi dengan Megawati untuk membahas Pemilu Presiden 2024, namun hingga kini belum ada respons dari Megawati.

Ganjar Pranowo, calon presiden yang diusung oleh PDIP, memberikan tanggapan terbatas terkait isu ini. Saat dimintai pendapatnya, Ganjar menyatakan, “Belum tahu, saya belum tahu,” setelah menghadiri kampanye akbar di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tanggal 21 Januari.

Munculnya Retak pada Pemilu 2024

Retaknya hubungan antara PDIP, Megawati, dan Jokowi menjadi sorotan terutama menjelang Pemilihan Presiden 2024. Perbedaan pandangan politik antara Jokowi dan PDIP, partai yang mendukung kariernya sejak tingkat pemerintahan daerah hingga ke tingkat nasional, menjadi faktor penting dalam retaknya kedekatan ini.

Ketidaksepakatan tersebut semakin tergambar jelas dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-51 PDIP pada 10 Januari. Megawati dalam pidatonya tidak menyentuh aspek keterlibatan Jokowi, melainkan menyoroti isu ketidakadilan dan pengalaman PDIP saat menghadapi penindasan dan diskriminasi.

Sementara itu, Jokowi terakhir kali tampak dalam acara PDIP pada Rapat Kerja Nasional IV PDIP di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 29 September 2023. Megawati saat itu memuji Jokowi sebagai kader terbaik partai yang telah mencalonkan diri sebanyak lima kali dalam berbagai jenjang politik.

Implikasi Terhadap Pemilihan Presiden

Retaknya hubungan antara Jokowi dan PDIP memiliki potensi dampak signifikan terhadap dinamika Pemilihan Presiden 2024. Jika konflik ini berlanjut, dapat mempengaruhi konfigurasi politik dan dukungan yang diterima oleh pasangan calon yang diusung masing-masing.

Masyarakat Indonesia pun menjadi penantang aktif dalam mengamati perkembangan hubungan antara Jokowi dan PDIP. Dengan retaknya kedekatan politik ini, menjadi suatu tantangan bagi pihak terkait untuk menciptakan keselarasan dan menghadirkan kesatuan dalam menjalani proses demokrasi Pemilu 2024.

Seiring berjalannya waktu, pertanyaan mengenai bagaimana retaknya hubungan ini akan berdampak pada panggung politik nasional dan dinamika Pemilu Presiden 2024 tetap menjadi sorotan yang menarik perhatian semua pihak. (Nada/Kumparan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *