Wayang Topeng Selalu Dinanti, Warga Kedung Panjang Sambut Meriah Sedekah Bumi

Jurnalindo.com, – Kesenian tradisional Wayang Topeng Kedung Panjang kembali menjadi pusat perhatian warga saat digelar dalam rangka Sedekah Bumi di Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Sabtu (18/4/2026).

Pertunjukan tahunan ini selalu berhasil menarik antusiasme masyarakat, bahkan sudah menjadi agenda wajib yang ditunggu-tunggu setiap tahun.

Sejak siang hari, warga mulai berdatangan untuk menyaksikan pertunjukan yang hanya digelar sekali dalam setahun tersebut. Bagi masyarakat setempat, Wayang Topeng bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari tradisi yang sarat makna dan nilai budaya.

Salah satu warga, Muhlisin, mengaku selalu menantikan momen ini sebagai bagian dari perayaan Sedekah Bumi.

“Setiap tahun pasti ditunggu. Selain menghibur, ini juga sudah jadi tradisi desa yang harus dijaga,” ujarnya.

Wayang Topeng Kedung Panjang sendiri merupakan kesenian turun-temurun yang telah ada sejak lebih dari satu abad lalu. Selain itu kesenian tersebut sudah diakui Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sejak tahun 2021,

Keberadaannya terus dipertahankan oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil bumi.

Dalam pementasan tahun ini, lakon yang dibawakan tetap mengangkat tema kehidupan masyarakat agraris, yang dekat dengan keseharian warga. Cerita yang disajikan tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan moral dan filosofi kehidupan.

Salah satu pemain, Suparji, mengungkapkan bahwa lakon yang dibawakan dalam Sedekah Bumi tahun ini adalah “Joko Tani”.

Cerita tersebut menggambarkan kehidupan petani serta asal-usul hasil bumi seperti padi, jagung, ketela, hingga buah-buahan yang erat kaitannya dengan Dewi Sri sebagai simbol kesuburan.

“Biasanya kalau Sedekah Bumi ya lakonnya Joko Tani. Menggambarkan orang bertani dan hasil pertanian,” ujarnya ditemui di lokasi.

Suparji sendiri telah menjadi pemain sejak tahun 1987 dan masih aktif tampil hingga sekarang. Dalam pementasan kali ini, ia memerankan tokoh dewa.

Kepala Desa Soneyan, Margi Siswanto, menjelaskan bahwa topeng yang dipakai merupakan warisan leluhur dan digunakan tanpa tali, melainkan digigit oleh para pemain.

“Topengnya itu asli, tanpa tali, dipakai dengan cara digigit. Ini yang menjadi ciri khas,” jelasnya.

Saat ini terdapat sekitar 35 topeng yang masing-masing mewakili karakter dalam cerita “Among Tani”. Untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas, juga dibuat versi duplikat dengan tali, namun dalam pertunjukan utama tetap menggunakan topeng asli.

Selain Wayang Topeng, rangkaian Sedekah Bumi juga dimeriahkan dengan berbagai hiburan lain seperti campursari, dangdut, wayang kulit, hingga pengajian. Namun, Wayang Topeng tetap menjadi daya tarik utama yang paling dinanti masyarakat.

Dengan antusiasme warga yang terus terjaga, Wayang Topeng Kedung Panjang membuktikan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat kuat di tengah perkembangan zaman.

Keberadaannya tidak hanya menjadi hiburan tahunan, tetapi juga simbol kebersamaan dan kekayaan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. (Juri/Jurnal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *