Jurnalindo.com Pati – Kasus dugaan kekerasan seksual di Ponpes Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati terus menjadi perhatian serius. Nahdlatul Ulama melalui PCNU Kabupaten Pati kini turun langsung mengawal penanganan kasus yang dinilai mencoreng dunia pesantren tersebut.
Ketua PCNU Kabupaten Pati, KH. Yusuf Hasyim menegaskan bahwa seluruh elemen NU di Kabupaten Pati telah dikonsolidasikan untuk mengawal proses hukum sekaligus memberikan perlindungan kepada korban.
“Kami bersama Banom, Ansor, Banser, Fatayat dan RMI berkomitmen mengawal kasus ini sampai tuntas. Ini tindakan yang sangat memalukan dan sangat keji,” tegas Yusuf usai dimintai keterangan di Polresta Pati, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, langkah pengawalan dilakukan agar para korban dan saksi tidak merasa sendirian dalam menghadapi proses hukum. PCNU juga meminta aparat kepolisian segera mengambil tindakan tegas terhadap tersangka agar masyarakat mendapat kepastian hukum.
“Kalau sudah ada penahanan, masyarakat akan lebih tenang karena proses hukum berjalan jelas,” ujarnya.
Kasus ini bahkan telah dilaporkan ke PWNU Jawa Tengah dan menjadi perhatian di tingkat nasional. Yusuf menyebut perkembangan kasus diminta terus dilaporkan karena menyangkut marwah lembaga pendidikan pesantren.
Tak hanya fokus pada proses hukum, PCNU juga memikirkan nasib para santri setelah ponpes ditutup sementara. Mereka khawatir pendidikan para santri terhenti akibat kasus tersebut.
“Kami tidak ingin para santri kehilangan hak untuk melanjutkan pendidikan,” imbuhnya.
Di sisi lain, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah PCNU Kabupaten Pati, KH. Liwa’udin menegaskan Ponpes Ndholo Kusumo bukan bagian dari pondok pesantren di bawah naungan RMI PCNU Pati.
Ia menyebut koordinasi dengan Kementerian Agama Republik Indonesia telah dilakukan untuk memindahkan para santri ke pondok pesantren lain yang lebih aman dan terjamin pengawasannya.
Selain itu, pendampingan psikologis dan komunikasi dengan keluarga santri juga terus dilakukan. Untuk santri yatim-piatu, RMI memastikan penanganan khusus telah disiapkan.
“Ada tujuh santri yatim-piatu. Sebagian sudah dijemput keluarga terdekat seperti paman dan bibinya,” tandasnya. (Juri/Jurnal)











