Jurnalindo.com, – Permasalahan sampah di Kabupaten Pati kian mendesak. Dengan volume mencapai sekitar 250 ton per hari, hingga kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati dinilai belum mampu menghadirkan solusi konkret. Berbagai rencana yang digulirkan justru masih berhenti pada tahap wacana tanpa kejelasan implementasi di lapangan.
Sejumlah program pengolahan sampah yang sempat digaungkan sebelumnya pun tak kunjung terealisasi. Salah satunya adalah rencana kerja sama pengolahan sampah menjadi briket di TPA Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, yang melibatkan PT Afaniel Bintang Energi Indonesia bersama perusahaan asal Australia, Infinity Eco Solutions. Hingga kini, proyek tersebut belum menunjukkan progres yang signifikan.
Padahal, pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR bersama Kementerian Lingkungan Hidup pernah menawarkan skema pengolahan sampah menjadi briket dengan pembiayaan penuh dari pusat.
Dalam skema tersebut, pemerintah daerah hanya diminta menyediakan lahan. Namun peluang ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh Pemkab Pati.
Alih-alih menuntaskan program yang sudah ada, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati kini kembali menggulirkan rencana baru berupa pengajuan pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Kepala DLH Kabupaten Pati, Tulus Budiharjo, mengatakan bahwa rencana tersebut akan diajukan ke pemerintah pusat dengan skema regional.
“Untuk PSEL ini memang tidak bisa berdiri sendiri. Minimal kapasitasnya sekitar 1.000 ton per hari, sementara Pati hanya sekitar 250 ton per hari. Jadi harus kerja sama dengan daerah lain,” ujarnya belum lama ini.
Ia menyebut, sejumlah daerah yang berpotensi diajak bekerja sama di antaranya Kudus, Rembang, dan Grobogan. Menurutnya, konsep aglomerasi seperti ini juga telah diterapkan di beberapa wilayah lain di Jawa Tengah.
“Di Jawa Tengah sudah ada Semarang Raya, Pekalongan Raya, Tegal Raya, dan Solo Raya. Untuk eks-Karesidenan Pati, salah satu lokasi yang memungkinkan adalah di TPA Sukoharjo karena lahannya cukup dan masuk zona industri,” jelasnya.
Meski demikian, rencana tersebut dinilai masih jauh dari tahap realisasi. Skema regional justru berpotensi memperpanjang proses karena membutuhkan koordinasi lintas daerah yang kompleks, sementara persoalan sampah terus bertambah setiap harinya.
Tulus juga menambahkan bahwa saat ini beberapa daerah seperti Jakarta dan Yogyakarta tengah memasuki tahap lelang proyek PSEL. Ia berharap Pati bisa mengikuti jejak tersebut.
“Kalau ini bisa terealisasi, tidak hanya menyelesaikan masalah sampah, tapi juga menghasilkan energi. Bahkan ke depan ada kemungkinan subsidi kendaraan listrik dari energi hasil sampah,” tambahnya.
Namun di tengah berbagai rencana tersebut, publik mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah. Minimnya progres dari program-program sebelumnya menimbulkan keraguan bahwa rencana PSEL akan benar-benar terwujud. (Juru/Jurnal)











