Ratusan Santri Kajen Nobar “Pesta Babi”, Isu Papua dan Krisis Lingkungan Jadi Sorotan

Jurnalindo.com, – Halaman Pondok Pesantren Al-Asas Mubtadi’in dipenuhi ratusan santri dan masyarakat umum pada Kamis (14/5/2026) malam. Mereka mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale.

Pengasuh Ponpes Al-Asas, Muhammad Faeshol, mengatakan antusiasme masyarakat sangat tinggi. Meski awalnya tercatat sekitar 370 peserta, jumlah peminat disebut jauh lebih banyak.

“Ada satu chat yang mewakili 10 orang. Kalau tidak dibatasi, peserta bisa mencapai 1.000 orang,” ujarnya.

Menurut Faeshol, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang untuk membangun daya kritis santri terhadap persoalan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.

“Santri harus belajar membaca karya secara kritis, mengecek validitas data, dan melakukan analisis mendalam,” katanya.

Ia juga mengajak para santri untuk memiliki kepedulian terhadap alam dan masyarakat ketika kelak menjadi pemimpin.

“Kalian nanti akan menjadi pemimpin. Melalui film ini, kalian belajar bagaimana menjadi pemimpin yang welas terhadap alam dan berjuang demi kemaslahatan umat,” tambahnya.

Dalam sesi diskusi, Husaini selaku pemantik memaparkan dampak proyek perkebunan dan food estate di Papua Selatan, terutama di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Ia menyebut luas lahan terdampak mencapai sekitar 2,5 juta hektare.

“Kalau dibayangkan, luasnya setara 14 kali Kabupaten Pati. Ini menjadi persoalan besar bagi masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu yang kehilangan hutan leluhur mereka,” jelas Husaini.

Ia juga menjelaskan bahwa judul Pesta Babi diambil dari tradisi masyarakat adat Papua yang memiliki makna sosial dan kebersamaan.

“Secara substansi, Pesta Babi di Papua mirip Sedekah Bumi di Jawa, simbol rasa syukur dan solidaritas masyarakat adat,” ungkapnya.

Selama 95 menit pemutaran, penonton disuguhi gambaran mengenai krisis ekologis dan konflik agraria akibat ekspansi sawit, tebu, hingga proyek food estate. Acara kemudian ditutup dengan diskusi interaktif yang mengajak peserta lebih peduli terhadap isu kemanusiaan dan kelestarian lingkungan di Indonesia Timur. (Juri/Jurnal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *