Jurnalindo.com, Jepara – Sebanyak 16 biksu memulai perjalanan spiritual Thudong 2026 dari kawasan Candi Sima, Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Rabu (20/5/2026). Para biksu akan menempuh perjalanan kaki selama 11 hari menuju Candi Sewu, Klaten, untuk mengikuti rangkaian perayaan Waisak 2026.
Prosesi pelepasan berlangsung khidmat mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB dan dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Wali Kota Salatiga Robby Hernawan, perwakilan Keraton Surakarta GKR Koes Moertiyah Wandansari, Bupati Jepara Witiarso Utomo, Pembimas Buddha Jawa Tengah Karbono, serta Ketua Panitia Thudong 2026 Jawa Tengah Sundoko.
Ketua Panitia Thudong 2026 Jawa Tengah, Sundoko, mengatakan pelepasan hari ini menjadi awal perjalanan para biksu menuju Candi Sewu yang berlangsung hingga 31 Mei 2026.
“Kegiatan hari ini merupakan pelepasan awal untuk mengawali perjalanan menuju Candi Sewu, Klaten. Perjalanan dimulai tanggal 20 sampai 31 Mei 2026,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh peserta Thudong merupakan biksu asal Indonesia yang berasal dari berbagai daerah. Selama perjalanan, rombongan akan melewati sejumlah titik persinggahan di wilayah Jepara sebelum melanjutkan perjalanan menuju Demak.
Rute perjalanan dimulai dari Candi Sima di Desa Blingoh, kemudian singgah di Balai Desa Jlegong, Vihara Jepara, Gereja Mlonggo, dan menginap di Pendopo Kabupaten Jepara. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Welahan hingga Kota Demak sebelum akhirnya bergabung dengan panitia Waisak di Candi Sewu, Klaten.
“Perjalanan ini berlangsung selama 11 hari dan nantinya akan langsung bergabung dengan rangkaian Waisak di Candi Sewu,” katanya.
Menurut Sundoko, persiapan kegiatan telah dilakukan sejak jauh hari dengan melibatkan aparat keamanan, relawan, serta instansi terkait untuk memastikan perjalanan berlangsung aman dan tertib.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan, relawan, dan instansi terkait untuk pengamanan perjalanan selama 11 hari nanti,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan Thudong dapat terus menjadi simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mempererat hubungan antara pemerintah, tokoh agama, Sangha, dan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini dapat terus berkelanjutan dalam rangka menciptakan suasana toleransi antarumat beragama di Indonesia, mempererat hubungan pemerintah dengan tokoh agama, serta membangun kedekatan antara Sangha dengan umat,” pungkasnya.
Sementara, Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan dalam thudong ini bisa membawa pesan simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia.
“perjalan spiritual ini dalam rangka menciptakan suasana toleransi antar umat beragama di Indonesia, mempererat hubungan pemerintah dengan tokoh agama, serta membangun kedekatan antara Sangha dengan umat,”ungkapnya.
Panitia juga berharap seluruh rangkaian perjalanan Thudong dapat berjalan lancar, aman, tertib, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan selama kegiatan berlangsung. (Juri/Jurnal)











