Hari Ketiga Banjir di Pati, Warga Ketitangwetan Mulai Terserang Penyakit dan Krisis Logistik

Jurnalindo.com, – Banjir yang merendam Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, selama tiga hari terakhir mulai memicu gangguan kesehatan bagi warga terdampak. Sejumlah warga mengeluhkan demam, mual, pusing hingga gatal-gatal akibat terlalu lama berada di lingkungan banjir.

Tim medis dari Puskesmas Batangan pun harus menerjang genangan banjir untuk memberikan pelayanan kesehatan langsung dari rumah ke rumah warga. Di sisi lain, warga juga mengeluhkan minimnya bantuan logistik selama banjir berlangsung.

Dari pantauan udara, banjir masih menggenangi ratusan rumah warga serta akses jalan desa. Aktivitas masyarakat lumpuh karena sebagian besar wilayah masih terendam air.

Memasuki hari ketiga banjir, keluhan kesehatan warga terus meningkat. Banyak warga, terutama anak-anak dan lansia, mulai mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan yang tidak higienis dan keterbatasan aktivitas selama banjir.

Untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, tim medis Puskesmas Batangan melakukan pemeriksaan secara door to door. Langkah tersebut dilakukan karena banyak warga rentan tidak mampu menjangkau posko kesehatan akibat akses jalan yang masih tergenang.

Seorang warga terdampak banjir, Darti, mengaku kondisi logistik semakin menipis sejak banjir melanda.

“Ya kita butuh logistik mas, sudah minim tiga hari terendam banjir. Anak-anak mulai terserang demam, gatal-gatal, pusing dan mual. Berharap ada solusi dari pemerintah, tidak harus banjir terus,” ujarnya, Selasa (26/05/2026).

Sementara itu, Tim Medis Puskesmas Batangan, Endang Sulistyowati, mengatakan pihaknya terpaksa melakukan pelayanan keliling karena banyak warga tidak bisa keluar rumah.

“Terpaksa door to door mas, karena warga yang rentan tidak bisa ke posko. Jadi harus menerjang banjir untuk memeriksa warga. Mereka sudah mengeluh gatal-gatal, demam, pusing serta mual,” katanya.

Selain pelayanan kesehatan keliling, pemerintah desa juga membuka posko kesehatan di rumah kepala desa untuk membantu warga terdampak.

Berdasarkan data sementara BPBD Pati hingga siang hari, sedikitnya tujuh desa masih terendam banjir. Khusus di Desa Ketitangwetan, sebanyak 530 rumah masih tergenang dengan jumlah warga terdampak mencapai 1.050 jiwa.

Banjir yang berhari-hari ini kembali memperlihatkan persoalan klasik di wilayah pesisir utara Pati: tanggul rentan jebol, drainase buruk, dan respons logistik yang kerap terlambat. Saat air belum juga surut, warga dipaksa bertahan di tengah ancaman penyakit dan keterbatasan bantuan. (Juri/Jurnal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *