Jurnalindo.com, – Bagi Siti Nafiah (58), aroma tempe bukan sekadar bau fermentasi kedelai itu adalah jejak panjang perjuangan menuju Tanah Suci. Warga Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati ini membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari dapur sederhana.
Selama lebih dari 20 tahun, Nafiah menekuni usaha tempe rumahan. Produksinya tak besar, hanya sekitar 8 kilogram per hari dengan omzet kotor Rp150 ribu. Terlihat biasa saja. Tapi justru dari angka-angka kecil itu, ia membangun mimpi yang tidak semua orang sanggup pertahankan: berangkat haji.
Setiap hari, ia menyisihkan uang dari hasil jualannya. Kadang hanya Rp10 ribu. Dalam seminggu, jika kondisi memungkinkan, ia bisa menabung Rp100 ribu. Nominal yang mungkin dianggap receh oleh sebagian orang, tapi bagi Nafiah, itu adalah “tiket” yang ia cicil pelan-pelan.
“Kalau ada kebutuhan lain ya tidak bisa nabung, tapi tetap diusahakan sedikit-sedikit,” ujarnya saat ditemui, Kamis (23/04/2026).
Perjalanan itu jelas tidak mulus. Ada fase dimana kebutuhan hidup mendesak, acara sosial datang bertubi-tubi, hingga kondisi ekonomi yang bikin harus pause nabung. Tapi satu hal yang nggak pernah berhenti: niatnya.
Tahun 2012, Nafiah akhirnya mendaftar haji. Ia sadar, ini bukan perjalanan instan. Dan benar saja ia harus menunggu 14 tahun.
Nafiah dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 7 Mei 2026 bersama sang suami, Winoto (65). Mereka akan masuk melalui Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali. Rasa haru dan syukur jelas nggak bisa disembunyikan.
“Senang sekali, tidak menyangka bisa berangkat dari jualan tempe,” katanya dengan mata berbinar.
Usaha tempe itu bukan cuma jadi jalan ke Mekkah. Dari situ juga, Nafiah membesarkan tiga anaknya hingga bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kini, anak-anaknya sudah mandiri, bekerja di kota seperti Kudus dan Semarang.
Dengan modal sekitar Rp 500 ribu untuk 50 kilogram kedelai per minggu, Nafiah menjalankan usahanya secara sederhana. Tapi dari proses itu, yang dihasilkan bukan cuma tempe melainkan masa depan.
Kisah Siti Nafiah ini simpel, tapi ngena. Di saat banyak orang nunggu “momen besar” buat mulai, dia justru membuktikan: yang kecil-kecil kalau konsisten, bisa jadi besar juga. (Juri/Jurnal)











