Jurnalindo.com, – Pencemaran Sungai Bango di Desa Bulumanis Lor, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, dikeluhkan warga karena menimbulkan bau menyengat dan serangan lalat hingga masuk ke permukiman.
Sungai sepanjang sekitar empat kilometer itu kini dipenuhi limbah padat dan cair. Kondisi tersebut semakin parah saat musim kemarau karena material limbah menumpuk di sepanjang aliran sungai.
Warga Bulumanis Lor, Ahmad Sutedi, mengatakan kondisi Sungai Bango semakin hari semakin memprihatinkan. Menurutnya, limbah kembali mengalir ke sungai terutama pada sore dan malam hari.
“Kondisi sekarang semakin hari semakin parah, limbah berada di sungai ini bertambah lagi dari arah utara. Limbah intensitas malam hari dan sore hari, saat sore hari debit limbah sangat deras,” kata Sutedi saat ditemui di lokasi, Kamis (8/10/2026).
Ia menyebut tumpukan limbah di sungai mencapai sekitar 1,5 meter. Dari permukaan, material tersebut terlihat seperti kulit ari atau sisa produksi tapioka. Namun di bagian bawahnya masih terdapat aliran air limbah yang cukup deras.
“Sungai bagian atas itu limbah padat, kulit ari. Di bawah itu ada airnya deras sekali. Sedimentasi ada 1,5 meter, sangat tebal sekali. Panjang Sungai Bango 4 kilometer,” ujarnya.
Tumpukan limbah tersebut juga menimbulkan bau menyengat yang dirasakan warga, terutama rumah-rumah yang berada di sekitar sungai.
“Lalat banyak sekali, karena bau menyengat sekali. Lima menit saja baunya menyengat sekali,” ungkapnya.
Menurut Sutedi, lalat bahkan masuk ke rumah warga dan hinggap di berbagai tempat, termasuk makanan yang disajikan di atas meja.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Sarimah. Ia mengatakan keberadaan lalat dan bau dari sungai telah mengganggu aktivitas sehari-hari warga.
“Bau, kalau perut lapar pengen muntah. Lalat banyak sekali. Harus segera diperbaiki seperti semula, karena dulunya airnya di sungai ini sangat jernih sekali,” katanya.
BPD Desa Bulumanis Lor, Saiful Mujab, juga mengaku resah dengan kondisi tersebut. Ia mengatakan lalat di sekitar sungai telah mencapai pemukiman warga.
“Bau sama lalat, kalau malam nyamuk. Lalat hingga ke rumah, ke makanan, bahkan sampai malam banyak lalat,” jelas Saiful.
Menurutnya, kondisi pencemaran semakin parah pada musim kemarau tahun ini.
“Selalu ada, parah sejak tahun ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Aliansi Warga Anti Limbah (Awali) Kabupaten Pati, Supriyadi, mengatakan pencemaran Sungai Bango sudah berlangsung cukup lama dan kondisinya semakin parah.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Pati menertibkan usaha pengolahan tapioka yang belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
“Ini sudah parah, sudah tidak berkata-kata, intinya Pemkab Pati harus menertibkan usaha-usaha yang belum ada IPAL-nya,” kata Supriyadi saat ditemui di lokasi.
Supriyadi menyebut terdapat sekitar 33 industri sektor tapioka di sekitar wilayah tersebut. Menurutnya, kondisi pencemaran paling parah terjadi ketika musim kemarau.
“Kalau industri itu ada 33 sektor bidang tapioka semua. Paling parah musim kemarau. Pemerintah itu ya kemungkinan ada solusi berjalan termasuk pengerukan,” jelasnya.
Ia berharap Sungai Bango dapat dipulihkan sehingga kembali bersih dan bisa dimanfaatkan masyarakat, khususnya untuk kebutuhan pertanian.
“Dulu sungai ini buat pertanian jernih, buat pertanian, sekarang ya supaya bisa ikan hidup lah. Ini sudah tercemar parah, agar dipulihkan lagi,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati, Tulus Budiharjo, mengatakan pihaknya saat ini tengah melakukan pengerukan di Sungai Bango.
Pengerukan tersebut dilakukan untuk membersihkan sungai dari tumpukan limbah yang mengendap. Namun, prosesnya hingga kini masih berlangsung.
“Masih proses itu mas, belum selesai, pengerukan masih berproses,” kata Tulus saat dihubungi wartawan.
Selain pengerukan, Tulus mengatakan pihaknya telah meminta para pelaku usaha di wilayah Margoyoso membuat penyaring limbah agar buangan tidak langsung masuk ke sungai.
“Kalau dari pengusaha sudah ada inisiatif untuk membuat saringan, masih berproses,” terang dia. (Juri/Jurnal)











