JAKARTA- Dinamika penyusunan kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 terus menjadi perhatian warga Nahdliyin. Salah satu posisi yang kini menjadi perhatian adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU.
Di tengah munculnya sejumlah nama yang diwacanakan, Birrul Alim selaku Kader Muda Nahdliyyin menyampaikan pandangannya agar Dr. KH. Syamsul Maarif, MA dapat dipertimbangkan sebagai Sekretaris Jenderal PBNU mendampingi Ketua Umum PBNU terpilih, *KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)*
Menurut Birrul yang juga merupakan salah satu Wakil Sekretaris Umum PP IPNU, KH Syamsul Maarif memiliki sejumlah modal penting untuk menjalankan tugas kesekjenan, terutama dalam membangun komunikasi, menjaga soliditas organisasi, dan memperkuat konsolidasi internal PBNU.
“Saya mendorong Dr. KH. Syamsul Maarif, MA untuk dipertimbangkan sebagai Sekretaris Jenderal PBNU. Ada sejumlah alasan yang menurut saya penting untuk menjadi pertimbangan, terutama chemistry dengan Gus Kikin, ruang pengabdian yang penuh selama menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta, dan kemampuan beliau diterima oleh berbagai kalangan” ujar Birrul.
Birrul menilai salah satu modal penting dalam menjalankan roda organisasi PBNU adalah adanya chemistry dan komunikasi yang baik antara Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal.
“Kyai Samsul memiliki hubungan yang sudah terbangun baik dengan gus kikin maupun dengan berbagai struktur NU di daerah. Hal ini terlihat dari kedekatan komunikasi beliau dengan PWNU yang sejak awal sudah menunjukkan chemistry dengan Gus Kikin. Ini menjadi modal yang amat penting karena kesamaan pemahaman akan memudahkan dalam membangun sinergi organisasi dari pusat hingga daerah” Ujar Sosok yang sedang menempuh S2 di UNJ ini
Alasan kedua yang disampaikan Birrul adalah posisi KH Syamsul Maarif yang sedang tidak menduduki jabatan publik. Menurutnya, beliau memungkinkan untuk memberikan perhatian penuh terhadap tugas-tugas organisasi PBNU.
“Kiai Syamsul bukan pejabat publik, sehingga ruang pengabdian beliau di PBNU bisa dilakukan secara penuh. Sekjen membutuhkan konsentrasi, mobilitas, koordinasi dan kemampuan mengawal agenda organisasi dari hari ke hari,” ujar Birrul.
Menurutnya, Sekretaris Jenderal merupakan salah satu posisi sentral dalam organisasi karena berhubungan langsung dengan administrasi, koordinasi kepengurusan, konsolidasi program, serta komunikasi internal dan eksternal organisasi.
Pertimbangan berikutnya adalah kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai kelompok di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Birrul melihat KH Syamsul Maarif memiliki pengalaman dan jejaring yang memungkinkan dirinya berkomunikasi dengan berbagai kalangan, mulai dari ulama, pengurus NU, kader muda, akademisi, hingga masyarakat luas.
“NU adalah rumah besar. Sekjen harus mampu menjadi jembatan bagi berbagai kelompok. Kiai Syamsul punya modal sosial untuk berkomunikasi dengan banyak kalangan. Karena itu, saya melihat beliau memiliki potensi untuk menjadi figur yang dapat diterima secara luas,”tuturnya.
Pandangan tersebut muncul di tengah pembicaraan mengenai sejumlah nama yang disebut dalam bursa Sekjen PBNU. Sejumlah pemberitaan terbaru juga mencatat nama Syamsul Maarif, Selaku Ketua PWNU DKI Jakarta, sebagai salah satu figur yang diwacanakan untuk posisi tersebut.
Birrul menegaskan bahwa dorongan terhadap KH Syamsul Maarif bukan dimaksudkan untuk mengesampingkan tokoh lain yang juga memiliki kapasitas.
Menurutnya, keputusan akhir mengenai komposisi kepengurusan merupakan kewenangan Ketua Umum PBNU bersama Formatur dengan mekanisme organisasi yang berlaku.
“Ini adalah aspirasi dan pandangan saya sebagai kader NU. Saya tidak sedang mengurangi kapasitas tokoh-tokoh lain. Yang terpenting adalah bagaimana Sekjen yang dipilih nantinya dapat memperkuat kepemimpinan Gus Kikin, menjaga soliditas PBNU, dan memastikan roda organisasi berjalan efektif,”jelasnya.
Birrul berharap proses penyusunan kepengurusan PBNU periode 2026–2031 dapat berlangsung dengan semangat persatuan, mengakomodasi berbagai potensi kader NU, serta mengutamakan kepentingan organisasi dan kemaslahatan warga Nahdliyin.
“Harapan saya sederhana: PBNU ke depan harus semakin solid, profesional dan mampu merangkul semua potensi yang ada. Kalau Kiai Syamsul diberikan amanah sebagai Sekjen, saya berharap beliau dapat menjadi penguat bagi Gus Kikin dalam menjalankan khidmah NU,” pungkas Birrul









