Sungai Silugonggo Mengering, Petani Pati Terancam Gagal Panen

Jurnalindo.com, – Kekeringan yang melanda Sungai Silugonggo mulai mengancam sektor pertanian di Desa Sugiharjo, Kabupaten Pati. Debit sungai yang terus menyusut membuat petani harus mengandalkan pompa untuk mengairi sawah.

Sedikitnya 62 hektare sawah di Dusun Gilis dan 65 hektare sawah di Dusun Garas kini bergantung pada pasokan air melalui pompa. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tanaman padi mulai memasuki fase yang membutuhkan cukup banyak air menjelang panen.

Petani setempat, Kaswanto, mengatakan saat ini kondisi tanaman masih relatif aman. Namun, situasi bisa berubah jika tidak ada pasokan air dalam dua pekan ke depan.

“Pertanian semua mengandalkan pompa karena aliran Sungai Silugonggo kering. Sawah sudah tidak ada airnya, banyak yang kekeringan,” kata Kaswanto, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, tanaman padi saat ini telah berusia sekitar 35-45 hari. Dengan waktu sekitar 25 hari menuju panen, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk mempertahankan tanaman hingga masa panen.

“Sementara dalam jangka waktu tiga pekan kekeringan ini alhamdulillah masih aman. Tapi kalau dua minggu lagi tidak ada air, bisa gagal panen karena air tidak bisa disedot dengan pompa,” ujarnya.

Kaswanto menyebut menyusutnya debit Sungai Silugonggo diperparah dengan kerusakan bendungan karet di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan. Bendungan yang seharusnya dapat menahan air tersebut disebut mengalami kerusakan sehingga pasokan air ke aliran sungai tidak optimal.

“Penyebab penyusutan karena bendungan pecah, jadi belum ada kiriman air dari sana. Ini kan mengandalkan Waduk Kedungombo,” jelasnya.

Selama ini, lahan pertanian di Desa Sugiharjo mengandalkan aliran utama dari Waduk Kedungombo di Kabupaten Grobogan. Namun, menurut informasi yang diterima petani dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), aliran air biasanya tidak digelontorkan selama Agustus hingga September.

“Informasi dari BBWS bulan Agustus biasanya ditutup, tidak digelontorkan sampai September. Sudah jelas nanti di desa ini gagal panen,” ungkapnya.

Kondisi kekeringan tersebut tidak hanya dirasakan petani. Debit Sungai Silugonggo yang semakin dangkal juga membuat wahana susur sungai di objek wisata Silugonggo Bestari berhenti beroperasi.

Ketua Pengelola Silugonggo Bestari, Sutrisno, mengatakan ketinggian air sungai saat ini bahkan tidak mencapai 50 sentimeter. Akibatnya, wisata perahu yang menjadi salah satu wahana andalan tidak dapat dijalankan.

“Kami yang biasanya mengandalkan wisata perahu sudah tidak beroperasi untuk susur sungai karena sungai ini debitnya semakin turun,” kata Sutrisno.

Ia menilai persoalan air di Sungai Silugonggo memiliki dampak berantai. Selain membuat aktivitas wisata dan UMKM menurun, kekeringan juga mengancam sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Petani juga terdampak, PDAM juga terdampak, banyak sektor terdampak,” ujarnya.

Dengan tanaman padi yang mulai mendekati masa panen, petani kini berpacu dengan waktu. Jika pasokan air tidak kembali tersedia, kekeringan Sungai Silugonggo berpotensi berubah menjadi ancaman nyata bagi hasil panen warga Sugiharjo. (Juri/Jurnal)