Jurnalindo.com, – Puluhan ton limbah industri tepung tapioka mencemari kawasan Pantai Bulumanis Kidul, Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Limbah berupa kulit ari ketela tersebut menggunung di sepanjang bibir pantai dan membuat hamparan pasir nyaris tak terlihat.
Pantauan di lokasi pada Sabtu (25/7/2026), kondisi Pantai Bulumanis Kidul tampak memprihatinkan. Selain dipenuhi limbah industri tapioka, kawasan pantai juga dikotori berbagai jenis sampah rumah tangga, mulai dari plastik hingga popok bekas.
Limbah dan sampah tersebut menumpuk di sepanjang garis pantai dengan panjang sekitar satu kilometer. Kondisi ini membuat Pantai Bulumanis Kidul yang sebelumnya menjadi salah satu kebanggaan warga setempat kehilangan daya tariknya.
Warga maupun wisatawan kini disebut enggan berkunjung untuk menikmati suasana pantai. Sejumlah gazebo yang dibangun di sepanjang bibir pantai pun tampak terbengkalai dan mulai mengalami kerusakan karena jarang digunakan.
Kepala Desa Bulumanis Kidul, Susanto, mengatakan persoalan sampah telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, sampah tersebut terbawa aliran dari wilayah atas melalui dua sungai yang mengapit desa, yakni Sungai Suwatu dan Sungai Pangkalan.
“Ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Kami dapat kiriman sampah-sampah ini dari wilayah atas, karena kami itu diapit oleh dua Sungai Suwatu dan Sungai Pangkalan. Tiap hari banyak sampah sehingga masuk ke pantai kami,” ujar Susanto, Sabtu (25/7/2026).
Pemerintah Desa Bulumanis Kidul sebenarnya telah berupaya mempercantik kawasan pantai. Upaya tersebut dilakukan dengan membangun gazebo, menanam berbagai jenis pohon, hingga melakukan pengecoran jalan menuju lokasi wisata.
Namun, upaya tersebut belum mampu mengatasi persoalan pencemaran yang terus terjadi.
“Kami sebenarnya sudah berusaha untuk mempercantik pantai, karena ini adalah warisan nenek moyang. Kami sudah menanam banyak tumbuhan di sini tapi memang inilah keadaannya, sampahnya luar biasa,” keluhnya.
Susanto menyebut persoalan paling berat yang dihadapi adalah limbah industri tepung tapioka. Tumpukan kulit ari ketela yang menggunung di kawasan pantai diperkirakan mencapai puluhan ton.
Hingga kini, Pemerintah Desa Bulumanis Kidul belum mampu mengolah limbah tersebut. Bahkan, limbah itu disebut dapat mengganggu pertumbuhan tanaman di sekitar kawasan pantai.
“Kalau puluhan ton ada. Sampai hari ini kami tidak mampu mengolahnya. Itu kalau ditanami juga tidak bisa,” ungkap Susanto.
Atas kondisi tersebut, Susanto berharap adanya solusi nyata dari pihak industri tepung tapioka. Ia menegaskan, pemerintah desa tidak bermaksud menutup aktivitas perusahaan. Namun, pihaknya berharap keberadaan industri juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang terdampak.
Terlebih, kompensasi yang diterima pemerintah desa selama satu tahun hanya sebesar Rp7 juta. Menurut Susanto, dana tersebut belum cukup untuk menangani persoalan sampah dan merawat sungai yang menjadi jalur masuk limbah ke kawasan pantai.
“Kami tidak kepingin menutup perusahaan atau apa, kami tidak. Tapi ketika mereka kaya raya, kami juga ingin dapat bagian hidup yang layak juga seperti yang lain,” pintanya.
Selain berharap adanya solusi dari pihak industri, Pemerintah Desa Bulumanis Kidul juga meminta perhatian pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat.
Susanto berharap penanganan pencemaran Pantai Bulumanis Kidul dilakukan secara menyeluruh. Ia ingin persoalan sampah dan limbah tidak hanya ditangani melalui kegiatan pembersihan sesaat, tetapi juga dicari solusi agar aliran sungai yang membawa limbah dapat dikelola dengan baik.
“Harapan kami pada pemerintah kabupaten, provinsi, pusat untuk betul-betul bagaimana solusinya. Karena ini bagian dari hajat hidup kami. Bagaimana mengelola sampah-sampah ini, bagaimana supaya air limbah bisa lebih bisa dimanfaatkan, sehingga kehidupan kami bisa lebih baik,” pungkasnya. (Juri/Jurnal)











