Liput Kericuhan Sidang Sudewo, Wartawan Tribun Jateng Mengaku Dihalangi Hingga Kalung Pers Putus

Jurnalindo.com, – Wartawan Tribun Jateng, Mazka Hauzan Naufal, mengaku mengalami tindakan yang mengganggu aktivitas jurnalistik saat meliput kericuhan antara dua kelompok massa di sekitar Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Senin (21/9/2026).

Insiden tersebut terjadi saat Mazka tengah menjalankan tugas meliput persidangan perkara dugaan korupsi yang menjerat Bupati Pati nonaktif Sudewo. Pada hari itu, agenda persidangan adalah pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK.

Sebelum keluar dari ruang sidang, Mazka mengaku telah melakukan registrasi sebagai wartawan dan memperoleh kalung identitas pers dari Pengadilan Tipikor Semarang.

Ketika mendapat informasi mengenai adanya gesekan antara kelompok loyalis Sudewo dengan kelompok Pati Ora Sepele (POS), Mazka bersama sejumlah wartawan lainnya kemudian keluar dari ruang sidang untuk mendokumentasikan kejadian tersebut.

“Saya memang posisi di tengah-tengah dua massa yang sedang gesekan. Saya keluar karena mendapat informasi ada keributan dan mau shooting,” kata Mazka kepada awak media, Selasa (22/9/2026).

Saat sedang mengambil foto dan video, seorang pria berkemeja hitam disebut menghampiri dan menghalangi aktivitas peliputannya.

Mazka mengaku telah menjelaskan bahwa dirinya merupakan wartawan yang sedang bertugas. Ia juga menunjukkan kalung identitas pers yang dikenakannya.

Namun, menurut Mazka, pria tersebut tetap melakukan tindakan fisik dengan menarik kalung identitas pers tersebut hingga terputus dari talinya.

“Saya sudah jelaskan saya wartawan Tribun Jateng dan saya tunjukkan kalung pers dari pengadilan. Tapi kalung saya malah ditarik sampai putus,” tuturnya.

Pria tersebut kemudian disebut mengaku sebagai wartawan dan menunjukkan kartu identitas pers yang dibawanya. Mazka mengaku tidak mengetahui kartu tersebut berasal dari perusahaan media mana.

Selain pria berkemeja hitam, Mazka juga menyebut seorang pria lain yang mengenakan kaus atau sweater biru lengan panjang turut mendorong bahunya. Pria tersebut juga disebut mengarahkan kamera ponsel ke wajah Mazka.

Mazka kembali menjelaskan bahwa dirinya sebelumnya berada di dalam ruang sidang dan baru keluar untuk meliput kericuhan yang terjadi di luar gedung pengadilan.

“Setelah saya jelaskan lagi kalau saya sebelumnya dari dalam sidang, baru keluar karena ada kejadian untuk shooting, mereka akhirnya berhenti,” ujarnya.

Mazka menyayangkan kejadian tersebut karena berlangsung ketika dirinya tengah menjalankan tugas jurnalistik. Menurutnya, wartawan yang berada di tengah kerumunan massa ketika melakukan peliputan tidak semestinya langsung dianggap sebagai bagian dari salah satu kelompok. (Juri/Jurnal)