Dampak BBM Mahal: TPI Sepi, Nelayan Juwana Memilih Tak Melaut

Jurnalindo.com, – Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi mulai terasa nyata di sektor perikanan Kabupaten Pati. Aktivitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), khususnya di wilayah Juwana, kini tampak lesu. Banyak nelayan memilih tidak melaut karena biaya operasional yang kian membengkak.

Harga BBM non-subsidi yang sebelumnya berada di kisaran Rp13.600 per liter kini melonjak hingga Rp26.000, bahkan mencapai Rp30.000 di beberapa wilayah. Kenaikan drastis ini menjadi pukulan telak, terutama bagi nelayan dengan kapal di atas 30 Gross Ton (GT) yang tidak mendapatkan akses BBM subsidi.

Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Eko Budiyono, mengatakan kondisi tersebut membuat nelayan berada dalam posisi sulit. Biaya melaut yang didominasi oleh kebutuhan BBM tidak lagi sebanding dengan hasil tangkapan.

“Sekarang sekitar 70 persen biaya operasional habis untuk BBM. Kalau dipaksakan melaut, justru berisiko merugi,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

Akibatnya, banyak kapal nelayan yang memilih bersandar di pelabuhan. Dampaknya merembet ke berbagai sektor pendukung.

“Aktivitas di TPI menurun drastis, pedagang ikan kehilangan pasokan, dan para pekerja yang bergantung pada aktivitas bongkar muat ikut terdampak,”ungkapnya.

Situasi ini mendorong para nelayan untuk menyuarakan aspirasi mereka melalui aksi damai yang direncanakan berlangsung pada 4 Mei 2026. Sekitar 10 ribu nelayan dijadwalkan turun ke jalan, dengan titik aksi di Simpang Lima Pati dan depan Gedung DPRD Kabupaten Pati.

Mereka menuntut adanya kebijakan harga khusus BBM untuk sektor perikanan. Menurut nelayan, harga yang lebih terjangkau sangat dibutuhkan agar aktivitas melaut bisa kembali berjalan dan roda ekonomi pesisir tidak berhenti.

Massa aksi akan berkumpul terlebih dahulu di Alun-Alun Juwana sebelum bergerak menuju pusat kota. Jika tuntutan tidak mendapat tanggapan, mereka mengancam akan melanjutkan aksi ke Jakarta bersama nelayan dari berbagai daerah lain.

Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada nelayan, tetapi juga pada stabilitas pasokan ikan dan ekonomi masyarakat secara luas. Jika nelayan terus berhenti melaut, kelangkaan pasokan ikan di pasar bukan tidak mungkin (juru/Jurnal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *