Jurnalindo.com, – Krisis air bersih yang melanda puluhan desa di Kabupaten Pati selama empat bulan terakhir kian mengkhawatirkan. Tak kunjung mendapat pasokan air secara rutin, warga terpaksa merogoh kocek pribadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Ronggo, Kecamatan Jaken. Desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Rembang dan Blora tersebut menjadi salah satu wilayah yang jarang menerima bantuan air bersih.
Salah seorang warga, Umi Mayasari, mengungkapkan bahwa selama lebih dari empat bulan dilanda kekeringan, warga harus bertahan dengan pasokan air yang tidak menentu.
“Kekeringan sudah empat bulan lebih. Tiap hari mengandalkan bantuan orang-orang yang mempunyai air bersih. (Namun) bantuan (air) nggak mesti, jarang (tiba),” ungkapnya saat ditemui, Selasa (20/10/2026).
Tingginya kebutuhan air untuk mandi, mencuci, memasak, hingga memenuhi kebutuhan minum ternak membuat bantuan air yang datang tidak bertahan lama. Setiap kali truk tangki bantuan tiba, air biasanya langsung habis dalam waktu sehari.
Padahal, warga telah menyiapkan puluhan galon dan jerigen untuk menampung pasokan air tersebut.
“(Air habis) satu hari aja. Ini saya nyediain kurang lebih 20-an galon,” katanya.
Minimnya pasokan bantuan membuat warga harus mencari cara lain untuk mendapatkan air bersih. Sebagian warga mencari sumber mata air di persawahan atau desa tetangga. Sementara itu, warga lainnya terpaksa membeli air menggunakan uang pribadi.
Umi mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air galon setiap hari. Dalam kondisi kekeringan yang berkepanjangan, kebutuhan tersebut menambah beban pengeluaran rumah tangga.
“(Kalau nggak ada bantuan) kita beli galonan. Rp5 ribu satu galon. Sehari beli sekitar 2-3 galon. InsyaAllah cukup, cukupin, diirit-irit,” tuturnya.
Dengan harga Rp5.000 per galon dan kebutuhan dua hingga tiga galon sehari, warga harus mengeluarkan sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 setiap hari untuk membeli air. Jika berlangsung selama sebulan, pengeluaran tersebut bisa mencapai Rp300.000 hingga Rp450.000.
Kondisi ini membuat warga Desa Ronggo harus berhemat di tengah sulitnya memperoleh air bersih. Sementara bantuan yang datang belum bisa diandalkan setiap hari, kebutuhan air untuk aktivitas rumah tangga tetap harus terpenuhi.
Krisis yang berlangsung selama berbulan-bulan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi warga, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari di tengah terbatasnya ketersediaan air bersih. (Juri/Jurnal)











