Jurnalindo.com, – Ironi dialami petani cabai di Desa Ngurensiti, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati. Saat harga cabai di pasaran mencapai Rp35.000 per kilogram, petani justru mengalami gagal panen akibat kekeringan ekstrim yang melanda wilayah tersebut.
Salah satu petani yang terdampak adalah Siti Rukayah. Tanaman cabai miliknya mengering hingga mati total karena tidak mendapatkan pasokan air selama tiga bulan terakhir.
“Tanaman cabai sudah mati semua karena tidak ada air. Sudah sekitar tiga bulan kondisinya seperti ini. Mau disiram juga tidak bisa karena sumber airnya sudah habis,” ujar Siti Rukayah.
Menurutnya, kondisi kekeringan tahun ini lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Wilayah tersebut bahkan sudah tidak diguyur hujan selama kurang lebih empat bulan.
Sumber air utama yang biasa digunakan untuk mengairi lahan pertanian, seperti sungai dan waduk, kini telah mengering sepenuhnya. Upaya penyiraman maupun penyedotan air tidak lagi memungkinkan karena tidak ada pasokan air yang bisa dimanfaatkan.
“Sekarang sungai dan waduk sudah kering. Kalau tidak ada air, tanaman tidak bisa bertahan. Akhirnya cabai mati semua,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat Siti harus menanggung kerugian cukup besar. Modal produksi yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp10 juta untuk setiap kotak lahan. Biaya itu digunakan untuk membeli pupuk, obat-obatan, serta perawatan tanaman selama masa budidaya.
Kerugian semakin terasa karena tanaman cabai mati ketika harga jual di pasaran sedang tinggi, yakni berkisar Rp33.000 hingga Rp35.000 per kilogram.
“Padahal sekarang harga cabai sedang tinggi. Kalau tanaman bisa panen, tentu hasilnya lumayan. Tetapi karena kekeringan, tanaman malah mati dan modal yang sudah dikeluarkan menjadi kerugian,” kata Siti.
Dalam kondisi normal, satu kotak lahan miliknya dapat menghasilkan sekitar dua kuintal atau 200 kilogram cabai dalam sekali panen. Dengan harga Rp33.000 hingga Rp35.000 per kilogram, hasil tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp6,6 juta hingga Rp7 juta sekali panen.
Namun, potensi pendapatan tersebut kini tidak bisa diperoleh karena tanaman cabai telah mati sebelum menghasilkan panen.
Di sisi lain, kebutuhan air di wilayah tersebut saat ini lebih diprioritaskan untuk tanaman padi. Kondisi itu membuat petani cabai semakin kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mempertahankan tanaman mereka.
Petani pun hanya bisa menunggu hingga musim hujan kembali tiba agar dapat memulai penanaman berikutnya.
“Kalau nanti sudah mulai hujan, rencananya lahan akan ditanami bawang merah terlebih dahulu. Setelah itu, baru kembali menanam cabai,” jelasnya. (Juri/Jurnal)











