Jurnalindo.com, – Dugaan pungutan liar (pungli) dalam proses rekrutmen tenaga kerja di PT Misaja Mitra, Desa Waturoyo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mencuat.
Puluhan warga mengaku dimintai uang mulai Rp2 juta hingga Rp5 juta dengan janji dapat diterima bekerja di perusahaan pengolahan udang tersebut. Namun, sejumlah warga mengaku pekerjaan yang dijanjikan tidak kunjung terealisasi meski uang telah diserahkan.
Salah satu warga yang mengaku menjadi korban, Widodo, warga RT 01/RW 06 Desa Waturoyo, mengatakan anaknya pernah diminta menyerahkan uang sebesar Rp2 juta untuk bisa masuk bekerja di PT Misaja Mitra.
Menurut Widodo, uang tersebut diminta oleh seseorang bernama Sujoko yang disebutnya merupakan Manager HRD.
“Dulu dimintai Rp2 juta. Janjinya jadi karyawan, ya terserah mau ditempatkan di mana saja. Tapi ternyata enggak bisa masuk. Anak saya cewek. Itu empat tahun yang lalu,” ujar Widodo di depan awak media pasca Audiensi dengan PT, pada jumat (2/10/2026).
Widodo mengatakan dirinya bukan satu-satunya warga yang mengalami hal tersebut. Ia menyebut terdapat puluhan warga di sekitar wilayah perusahaan yang diduga menjadi korban dengan nominal uang yang berbeda.
“Korban banyak, Mas. Tadi yang di dalam ikut audiensi enam orang. Kalau dikumpulkan semuanya di wilayah sekitar sini bisa puluhan orang,” katanya.
Persoalan tersebut kemudian memicu aksi warga. Ratusan warga setempat mendatangi dan menggelar demonstrasi di halaman PT Misaja Mitra untuk mempertanyakan dugaan pungutan dalam proses rekrutmen tenaga kerja.
Dalam audiensi yang digelar bersama pihak perusahaan, Widodo menyebut oknum yang dipersoalkan akhirnya mengakui persoalan tersebut dan bersedia mengembalikan uang yang telah diterima dari warga.
Bagi keluarga Widodo, persoalan tersebut juga berdampak pada masa depan anaknya. Perempuan yang merupakan lulusan sarjana itu hingga kini tidak bekerja di PT Misaja Mitra seperti yang sebelumnya dijanjikan.
Anaknya kini bekerja menjual es jus menggunakan kontainer di pinggir jalan bersama orang lain. Widodo mengatakan anaknya sudah tidak berminat kembali melamar ke perusahaan tersebut meskipun nantinya ada tawaran pekerjaan.
“Sudah tidak mau lagi,” ujarnya.
Warga Desa Waturoyo berharap manajemen PT Misaja Mitra melakukan evaluasi terhadap mekanisme rekrutmen tenaga kerja. Mereka meminta proses penerimaan karyawan dilakukan secara transparan dan tidak disertai permintaan uang kepada calon pekerja.
Warga juga berharap aparat penegak hukum dapat menelusuri dugaan pungutan tersebut apabila ditemukan unsur pelanggaran hukum, sehingga praktik serupa tidak kembali terjadi dalam proses rekrutmen tenaga kerja di wilayah Margoyoso, Pati. (Juri/Jurnal)











