Bendungan Karet Bungasrejo Mengering, Puluhan Ribu Ikan Sapu-sapu Bermunculan

Jurnalindo.com, – Bendungan karet yang berada di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, mulai mengering akibat musim kemarau panjang. Kondisi tersebut membuat cadangan air untuk kebutuhan pertanian menyusut, sekaligus memunculkan fenomena puluhan ribu ikan sapu-sapu yang memenuhi area bendungan.

Ikan-ikan tersebut muncul setelah permukaan air bendungan surut. Dari kejauhan, kumpulan ikan sapu-sapu yang masih hidup itu tampak seperti tumpukan sampah. Keberadaannya juga menimbulkan bau menyengat di sekitar lokasi.

Salah seorang warga setempat, Sulastri, mengatakan ikan sapu-sapu mulai bermunculan ke permukaan setelah debit air bendungan menyusut dalam beberapa pekan terakhir.

“Dua minggu surut. Airnya dulu penuh, tapi dibuat petani pertanian habis, Mas. Kemarau ini empat bulanan nggak ada hujan,” katanya kepada awak media, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, ikan sapu-sapu sebelumnya memang sudah terdapat di bendungan tersebut, tetapi jumlahnya belum sebanyak sekarang. Ikan mulai terlihat dalam jumlah besar sekitar satu pekan terakhir seiring semakin surutnya air.

“Ikan sapu-sapu dulu ada sedikit, airnya kan masih ada. Ini sekarang surut sebanyak (ikan sapu-sapu) ini satu mingguan,” ujarnya.

Surutnya bendungan juga berdampak terhadap lahan pertanian di sekitar wilayah tersebut. Sulastri menyebut pasokan air untuk mengairi sawah semakin berkurang sehingga sejumlah lahan pertanian mengalami kekeringan.

“Airnya habis dan tidak bisa pengairan sawah timbul. Dampaknya bau-bau,” ungkapnya.

Selain mengganggu lingkungan, keberadaan ikan sapu-sapu juga dianggap warga mengganggu ekosistem perairan. Warga bahkan kerap menangkap ikan tersebut dengan cara disetrum. Ikan yang diperoleh kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele.

“Ikannya dulu kan disetrum, dibuang langsung mati, membusuk. Ikannya dimanfaatkan buat pakan lele,” sebutnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, mengatakan keberadaan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar dapat menjadi ancaman bagi populasi ikan lokal.

Menurutnya, ikan sapu-sapu yang berkembang di sungai dapat mengganggu populasi benih ikan yang memiliki nilai konsumsi. Kondisi itu pada akhirnya berpotensi merugikan nelayan yang menggantungkan penghasilan dari hasil tangkapan di sepanjang Sungai Juwana atau Silugonggo.

“Ikan sapu-sapu di sungai menjadi predator dan mengganggu populasi bagi benih ikan yang dapat dikonsumsi. Sehingga merugikan para nelayan di sepanjang Sungai Juwana (Silugonggo),” tuturnya saat ditemui di kantornya.

Hadi menerangkan, peningkatan populasi ikan sapu-sapu telah terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Jenis ikan tersebut juga memiliki kemampuan bertahan hidup yang cukup tinggi ketika kondisi perairan mengalami penyusutan.

Persoalan itu semakin terlihat ketika debit Sungai Silugonggo ikut menyusut akibat musim kemarau. Sejumlah ikan ditemukan terdampar di bagian sungai yang mengalami pendangkalan dan penyusutan air. Sebagian lainnya ditemukan dalam kondisi mati.

“Tentu saja dalam kondisi sungai kering saat ini ikan-ikan di sungai juga hilang atau mati dan nelayan tidak bisa mengambil ikan,” jelasnya.

Menurut Hadi, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian untuk menjaga keseimbangan ekosistem Sungai Silugonggo. Kekeringan tidak hanya berdampak terhadap keberlangsungan ikan, tetapi juga aktivitas nelayan yang bergantung pada hasil tangkapan sungai.

Ketika debit sungai terus menyusut, ikan semakin sulit ditemukan sehingga hasil tangkapan nelayan ikut terdampak.
“Nelayan tidak bisa mengambil ikan,” tandasnya. (Juri/Jurnal)