Kekeringan Meluas, BPBD Pati Sebut Sudah 6 Kecamatan Terdampak

Jurnalindo.com, – Puncak musim kemarau mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Pati. Sedikitnya 15 desa yang tersebar di enam kecamatan telah menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati akibat kekeringan.

Keenam kecamatan tersebut meliputi Tambakromo, Jakenan, Jaken, Pucakwangi, Gabus, dan Sukolilo. BPBD mulai melakukan dropping air bersih ke sejumlah wilayah terdampak sejak 1 Agustus 2026.

Kepala BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya mengatakan, kondisi kekeringan diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Berdasarkan hasil rapat koordinasi yang digelar pada 31 Juli lalu, puncak musim kemarau di Kabupaten Pati diproyeksikan terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026.

“Puncak kemarau di Pati diperkirakan Agustus, September, Oktober, bahkan ada kemungkinan sampai November-Desember baru akan turun hujan,” ujarnya.

Menurutnya, wilayah Pantura bagian timur termasuk Pati menjadi salah satu kawasan yang diperkirakan paling akhir menerima hujan. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus mengantisipasi meluasnya wilayah yang mengalami kekurangan air bersih.

Sejak awal Agustus, BPBD Pati telah menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air. Hingga saat ini, sekitar 24 tangki berkapasitas 5.000 liter per tangki telah didistribusikan.

“Sejak 1 Agustus atas nama pemda dropping air bersih, sampai hari ini yang sudah kita atensi ada 12-15 desa di Tambakromo, Jakenan, Jaken, Pucakwangi, Gabus, Sukolilo,” katanya.

Sejumlah desa yang menjadi sasaran penanganan antara lain Desa Gebang di Kecamatan Gabus, Desa Tanjungsekar di Kecamatan Pucakwangi, Desa Cengkalsewu di Kecamatan Sukolilo, Desa Tondokerto dan Tambahmulyo di Kecamatan Jakenan, serta Desa Tegalharjo di Kecamatan Jaken.

Kondisi tersebut diperkirakan akan semakin berat memasuki September dan Oktober. BPBD Pati pun menyiapkan pola distribusi air bersih yang lebih intensif dengan target 10 hingga 12 tangki setiap hari.

“September-Oktober akan semakin kering dan semua yang dilanda kekeringan termasuk persawahan. Kita rencanakan setiap hari antara 10 sampai 12 tangki terus beroperasi membantu masyarakat desa yang membutuhkan air bersih,” tuturnya.

Untuk mendukung penanganan tersebut, BPBD Pati menyiapkan tiga armada tangki milik sendiri. Selain itu, pemerintah daerah telah mendapatkan bantuan satu unit armada dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

BPBD juga mengupayakan tambahan armada dari BBWS Bendungan Klambu, Batalyon Teritorial Pembangunan Jawa Tengah, serta berkoordinasi dengan Polresta Pati dan PMI.

“Yang kami siapkan BPBD tiga armada, kita dapat bantuan satu unit dari Balai Pengembangan Wilayah Jateng. Kemudian, kami mengupayakan bantuan unit dari BBWS Bendungan Klambu satu atau dua kita pinjam. Dari Batalyon TP juga ada unit yang kita ajukan,” ungkapnya.

Pemkab Pati juga berencana mengajukan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mendukung operasi pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat selama puncak kemarau.

Selain mengandalkan armada pemerintah, BPBD mengajak pihak swasta maupun donatur untuk ikut membantu distribusi air bersih ke wilayah yang berisiko mengalami kekeringan.

“Kita optimis karena sudah sering kekeringan di kemarau. Sinergi jajaran kepolisian, TNI, pihak donatur sudah sangat terjalin erat supaya masyarakat yang butuh air bersih terlayani operasi bantuan pemenuhan kebutuhan dasar air bersih,” pungkasnya.

Dengan potensi kemarau yang masih berlangsung hingga akhir tahun, BPBD Pati terus memantau perkembangan kondisi di lapangan untuk mengantisipasi bertambahnya desa yang mengalami krisis air bersih.(Juri/Jurnal)