Jurnalindo.com, – PANDEGLANG – Bagi seorang santri, perjuangan tidak hanya tentang seberapa besar usaha yang dilakukan, tetapi juga tentang menjaga adab dan memohon keberkahan dari para guru. Nilai tersebut tercermin dalam langkah Muhammad Shidqil Muqoffa atau yang akrab disapa Rekan Aqil, saat bersilaturahmi dan sowan kepada ulama kharismatik Banten, Abuya Muhtadi Dimyathi, di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Cidahu, Pandeglang, Banten, Minggu (1/11/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual Aqil menjelang pencalonannya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Masa Khidmat 2026–2029. Dalam kesempatan itu, ia datang untuk bersilaturahmi sekaligus memohon doa dan restu kepada Abuya Muhtadi agar setiap langkah perjuangannya senantiasa mendapatkan keberkahan.
Aqil mengungkapkan bahwa dalam tradisi Nahdlatul Ulama, seorang santri diajarkan untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan dan kekuatan ikhtiarnya sendiri. Doa para guru dan kiai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pengabdian.
“Dalam budaya Nahdlatul Ulama, sebagai seorang santri kita tidak pernah diajarkan untuk hanya mengandalkan kekuatan ikhtiarnya sendiri. Kita tetap berjuang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, tetapi tetap mengetuk pintu langit melalui doa para guru dan kiai. Sebab, dalam perjuangan, bukan hanya tentang seberapa jauh kita mampu melangkah, melainkan juga seberapa besar keberkahan selalu mengiringi di setiap langkah kita,” ungkap Aqil.
Baginya, sowan kepada kiai bukan sekadar rangkaian kunjungan, melainkan wujud penghormatan seorang santri kepada guru dan ulama. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap ikhtiar perlu disertai kerendahan hati, doa, serta kesadaran akan pentingnya menjaga hubungan dengan para pewaris tradisi keilmuan Islam.
Sebelum bersilaturahmi dengan Abuya Muhtadi, Aqil bersama rombongan terlebih dahulu melaksanakan ziarah ke makam keluarga besar Abuya Dimyati, ayahanda Abuya Muhtadi Dimyathi, beserta keluarga yang dimakamkan di lingkungan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum. Ziarah tersebut menjadi pembuka rangkaian kegiatan yang berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh penghormatan kepada para pendahulu.
Dalam kunjungan tersebut, Aqil didampingi Ketua PW IPNU Banten, Sekretaris PW IPNU Banten, Wakil Ketua PW IPNU Banten, jajaran pengurus wilayah, serta para Ketua Pimpinan Cabang IPNU dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Banten. Rombongan turut bersilaturahmi dan memohon doa kepada Abuya Muhtadi yang juga merupakan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Tradisi sowan dan ziarah merupakan bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat Nahdlatul Ulama yang mengajarkan penghormatan kepada ulama dan para pendahulu. Nilai tersebut juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter kader IPNU, khususnya dalam menjaga kesinambungan antara tradisi pesantren, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kunjungan ini berlangsung setelah PW IPNU Banten bersama delapan Pimpinan Cabang IPNU se-Provinsi Banten merekomendasikan Aqil sebagai calon Ketua Umum PP IPNU dalam Rapimwil II pada 28 Oktober 2026. Ia selanjutnya akan mengikuti proses kontestasi dalam Kongres XXI IPNU yang dijadwalkan berlangsung pada 26–30 November 2026 di Kendal, Jawa Tengah.
Di tengah berbagai ikhtiar menuju kepemimpinan organisasi, Aqil menempatkan doa dan restu para kiai sebagai bagian dari perjalanan spiritual seorang santri. Baginya, perjuangan bukan hanya tentang mencapai tujuan, melainkan juga tentang bagaimana menjaga adab, menghormati guru, dan senantiasa mengharapkan keberkahan dalam setiap langkah pengabdian. (Jurnalindo.com)











