Jurnalindo.com, – Banjir rob yang kembali melanda Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, sejak Selasa (14/7/2026), kembali merendam puluhan rumah warga. Kenaikan muka air laut dipicu fenomena gelombang pasang yang tengah terjadi di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.
Rob yang sempat surut pada awal Juli kini kembali menggenangi permukiman warga. Kondisi tersebut memperpanjang penderitaan masyarakat yang sejak pertengahan Mei lalu harus hidup berdampingan dengan genangan air laut yang juga merendam area tambak.
Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, mengatakan sebanyak 36 rumah di RT 5 kembali terdampak rob dengan ketinggian air berkisar antara 10 hingga 30 sentimeter.
“Pagi rob pasang naik lagi. Siang ini 36 rumah kena lagi,” ujar Setyo saat dihubungi melalui telepon.
Meski demikian, ketinggian air saat ini masih lebih rendah dibandingkan puncak rob pada akhir Juni 2026. Namun, ia mengingatkan warga tetap waspada karena BMKG memprediksi gelombang pasang akan kembali meningkat pada Kamis hingga Jumat.
“Kamis, Jumat prediksi BMKG ada kenaikan (air pasang),” katanya.
Setyo mengungkapkan penanganan rob di desanya masih berlangsung dan belum sepenuhnya mampu menahan masuknya air laut. Tanggul yang dibangun Pemerintah Kabupaten Pati baru rampung sepanjang 75 meter. Sementara pembangunan tanggul kedua sepanjang 90 meter masih dalam tahap pemasangan pancang.
Di sisi lain, penanganan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk tanggul sepanjang 450 meter masih memasuki tahap persiapan material. Pemasangan pancang direncanakan dimulai pada Kamis.
“Tanggul pertama yang dari pemkab sudah selesai 75 meter, tanggul kedua sepanjang 90 meter baru proses pancang. Penanganan dari pemprov baru persiapan material. Hari Kamis rencana pemasangan pancang sepanjang 450 meter,” jelasnya.
Ia mengaku khawatir apabila rob kembali mencapai puncaknya seperti yang terjadi pada akhir Juni lalu. Selain mengancam permukiman, banjir rob juga berdampak langsung terhadap mata pencaharian warga yang mayoritas menggantungkan hidup dari budidaya ikan nila salin di tambak.
“Khawatir kalau naik lagi. Warga tidak bisa bekerja sebagai petani tambak budidaya ikan nila salin,” pungkasnya. (Juri/Jurnal)











