Anak-anak Disebut Mulai Jadi Target Paparan Radikalisme di Media Sosial

Jurnalindo.com, – Perkembangan media sosial yang semakin masif dinilai membuka celah baru bagi penyebaran paham radikalisme di kalangan anak dan remaja. Kondisi ini mulai menjadi perhatian serius pemerintah daerah, termasuk di Kabupaten Pati.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pati, Niken Tri Meiningrum mengatakan anak-anak kini menjadi kelompok yang rentan terpapar paham radikal karena tingginya intensitas penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, paparan tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk ajakan terang-terangan, melainkan masuk melalui konten digital yang dikemas secara halus dan mudah diterima remaja.

“Radikalisme sementara ini sudah mengarah ke anak-anak melalui media sosial. Ini menjadi perhatian kita bersama,” ujar Niken, Senin, 27 April 2026.

Ia menyebut remaja memiliki rasa ingin tahu tinggi, tetapi belum semuanya mampu memilah informasi yang beredar di internet. Di sisi lain, pengawasan terhadap aktivitas digital anak masih minim, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Karena itu, Kesbangpol Kabupaten Pati menggandeng Densus 88 Anti Teror Polri dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati untuk melakukan langkah pencegahan di lingkungan sekolah, khususnya tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Niken menilai pendekatan pencegahan harus dilakukan sejak dini agar pelajar tidak mudah terpengaruh narasi intoleran maupun ajakan yang mengarah pada radikalisme.

“Pengawasan kepada anak perlu ditingkatkan. Anak-anak sekarang haus informasi, sehingga perlu pendampingan supaya tidak salah memahami konten yang mereka akses,” jelasnya.

Meski demikian, ia memastikan hingga saat ini kondisi pelajar di Kabupaten Pati masih relatif aman dari pengaruh paham radikal. Namun langkah antisipasi tetap diperlukan mengingat penyebaran informasi di media sosial berlangsung cepat dan sulit dikendalikan.

Ia berharap sekolah dan orang tua dapat lebih aktif mendampingi anak dalam menggunakan media sosial sekaligus memperkuat pemahaman kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila di lingkungan pendidikan.

“Harapannya dari awal kita antisipasi agar tidak terjadi di Pati,” pungkasnya. (Juri/Jurnal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *