Jurnalindo.com, – Haul Syekh Jangkung di Desa Kayen, Kabupaten Pati, tidak hanya menjadi peringatan keagamaan, tetapi juga peristiwa budaya yang terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Sejumlah tradisi turun-temurun seperti kirab luwur, nyadran, dan tahlilan massal kembali mewarnai rangkaian haul yang berlangsung sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026.
Rangkaian kegiatan haul diawali dengan Tahtimul Qur’an Binnadhor Jama’ah Al-Hikmah Kayen pada 24 Desember 2025. Tradisi tahlilan dan khataman Al-Qur’an kemudian digelar secara bergilir oleh masyarakat se-Desa Kayen dan jamaah dari luar daerah mulai 25 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.
Salah satu agenda yang sarat nilai budaya adalah Kirab Luwur dan Nyadran yang dilaksanakan pada 31 Desember 2025. Prosesi ini menjadi simbol penghormatan masyarakat kepada Syekh Jangkung sebagai tokoh penyebar Islam sekaligus bentuk pelestarian tradisi leluhur yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Rangkaian haul berlanjut dengan kegiatan Jemaah Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati pada 2 Januari 2025, Tahtimul Qur’an Bil Ghoib serta Tahtimul Qur’an di Masjid pada 3 Januari 2026. Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi buka selambu makam dan pengajian umum pada 4 Januari 2026, yang selalu dinantikan oleh masyarakat dan peziarah.
Juru Kunci Makam Syekh Jangkung, Kartono, mengatakan bahwa haul ini menjadi momentum penting dalam menjaga nilai budaya religius sekaligus mempererat kebersamaan warga.
“Haul Syekh Jangkung mulai tanggal 25 Desember tahlilan-khataman se-Desa Kayen dan luar kota sampai besok sore. Terakhir nanti lelang selambu hari Minggu pagi penggantian selambu, jam 12 lelang selambu. Minggu malam Senin puncak acara pengajian,” ujar Kartono kepada awak media, Jumat (2/1/2026).
Menurutnya, tradisi haul merupakan bentuk ngalap berkah sekaligus sarana guyub rukun masyarakat. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung aman dan kondusif.
Syekh Jangkung sendiri dikenal sebagai tokoh waliyullah dan ulama besar di Kabupaten Pati yang menyebarkan Islam dengan cara bermusafir dari satu wilayah ke wilayah lain.
“Jejak sejarahnya hingga kini masih terjaga, baik melalui makam maupun berbagai tradisi budaya yang terus hidup di tengah masyarakat,”pungkas dia. (Juru/Jurnal)












