Jurnalindo.com – Warga Kampung Cokrah dan Kampung Baru, Kelurahan Tirto, Kota Pekalongan, hidup dalam bayang-bayang banjir setiap kali hujan turun. Perkampungan yang berada di bantaran Sungai Bremi tersebut kerap tergenang air karena debit sungai lebih tinggi dibandingkan lantai rumah warga, sehingga keselamatan permukiman hanya bergantung pada tanggul di sisi kanan dan kiri sungai.
Kondisi tersebut membuat warga selalu waswas, terutama saat hujan deras turun selama berjam-jam. Genangan air hampir dipastikan terjadi, terlebih jika hujan disertai air rob maupun kiriman air dari wilayah hulu.
Secara geografis, Kampung Cokrah dan Kampung Baru berada tepat mengapit Sungai Bremi. Kampung Cokrah terletak di sisi barat sungai, sementara Kampung Baru berada di sisi timur. Kondisi ini menjadikan kedua kampung tersebut sangat rentan terdampak luapan sungai.
Situasi diperparah dengan letak Kampung Cokrah yang berada di daerah cekungan. Ketika air mulai menggenang, surutnya membutuhkan waktu lama karena tidak adanya jalur pembuangan air yang memadai.
Air genangan tidak dapat mengalir ke arah utara menuju laut secara langsung, kecuali melalui Sungai Bremi. Di sisi utara permukiman, aliran air terhambat oleh jalur rel kereta api dan Jalan Pantura yang memiliki elevasi jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan permukiman warga. dilansir dari detik.com
Warga berharap adanya penanganan serius dari pemerintah, baik melalui peninggian dan penguatan tanggul, normalisasi Sungai Bremi, maupun sistem drainase yang lebih efektif agar ancaman banjir tidak terus menghantui kehidupan sehari-hari mereka.
Jurnal/Mas












