Ancaman Iran Untuk AS

referensi gambar dari *news.detik.com)
referensi gambar dari *news.detik.com)

Jurnalindo.com – Parlemen Republik Islam Iran memberikan respons keras terhadap Amerika Serikat (AS) di tengah gelombang protes besar-besaran yang telah menewaskan ratusan orang, memperingatkan konsekuensi serius jika Washington mengambil langkah militer pertama. (Reuters)

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, dalam pidato di depan anggota parlemen, menyampaikan ancaman langsung kepada militer AS dan Israel. Ia menegaskan bahwa jika Amerika Serikat menyerang Republik Islam, pasukan AS dan Israel akan dianggap sebagai “sasaran yang sah” dan menjadi target untuk pembalasan. (Jurnal Patroli News)

Pidato keras tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan akibat protes anti-pemerintah yang melanda sejumlah kota besar di Iran. Aksi protes, yang dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi dan pemerintahan, telah berubah menjadi tantangan serius terhadap otoritas negara, dengan jumlah korban tewas yang menurut kelompok hak asasi mencapai ratusan orang. (AP News)

Ancaman Qalibaf muncul setelah peringatan dari Presiden Donald Trump kepada Iran untuk tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran. Trump memperingatkan bahwa AS mungkin mempertimbangkan tindakan jika nyawa demonstran terancam, sebuah pernyataan yang menurut pejabat Iran merupakan bentuk campur tangan dalam urusan domestik negara. (tribtoday.com)

Dalam sidang parlemen yang disiarkan langsung itu, para legislator Iran bahkan meneriakkan slogan keras “Matilah Amerika!” sebagai ekspresi penolakan terhadap tekanan luar negeri. (The Financial Express)

Sementara itu, laporan internasional mengindikasikan bahwa protes yang semula dimulai sebagai reaksi terhadap lonjakan harga dan masalah ekonomi langsung berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah yang luas, menyebabkan lebih dari 500 orang tewas dan ribuan lainnya ditangkap, menurut kelompok pemantau HAM. (detiknews)

Ketegangan dengan AS dan Israel kini menjadi salah satu aspek paling mencemaskan dari krisis ini, membuka potensi eskalasi konflik regional jika perlakuan kekerasan terhadap demonstran terus berlanjut dan respon luar negeri semakin intens.

Jurnal/Mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *