Jurnalindo.com, – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Pati sejak awal Januari 2026 meninggalkan dampak kerusakan yang sangat besar. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, total kerugian materiil akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai Rp 9,55 miliar.
Bencana yang dipicu oleh curah hujan tinggi disertai luapan sungai itu terjadi pada Jumat, 9 Januari 2026 sekitar pukul 20.00 WIB dan hingga kini dampaknya masih dirasakan masyarakat di 7 kecamatan dan 58 desa.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetyo, menyampaikan bahwa banjir telah merendam sedikitnya 6.883 rumah milik warga. Selain itu, sebanyak 9.147 kepala keluarga atau sekitar 25.698 jiwa terdampak langsung oleh bencana tersebut.
“Kerusakan paling besar terjadi pada sektor permukiman dan pertanian. Ribuan rumah warga terendam, sementara lahan sawah dan tambak mengalami gagal panen,” ujar Martinus, Senin (26/1/2026).
Data BPBD mencatat, banjir juga menggenangi sekitar 7.537 hektar sawah dan 507,1 hektar tambak, yang menjadi sumber utama mata pencaharian warga. Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak pada ketahanan ekonomi dan pangan masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.
Tak hanya itu, infrastruktur publik turut mengalami kerusakan serius. Sedikitnya 31.391 meter jalan terdampak banjir, serta 37 sekolah, 73 tempat ibadah, dan 5 fasilitas umum ikut terendam. Kerusakan tersebut mengganggu aktivitas pendidikan, ibadah, serta mobilitas warga di sejumlah wilayah.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, bencana ini memaksa 562 kepala keluarga atau 1.335 jiwa mengungsi ke tempat-tempat aman, baik di fasilitas umum maupun rumah saudara yang tidak terdampak banjir.
Hingga saat ini, BPBD bersama Forkopimda dan pemerintah daerah terus melakukan penanganan darurat, mulai dari pendirian dapur umum, pembersihan lingkungan, hingga pendataan lanjutan terhadap kerusakan yang terjadi.
“Sebagian wilayah banjir memang mulai surut, namun beberapa desa masih tergenang. Kami menghimbau masyarakat tetap waspada karena potensi hujan masih tinggi,” tambahnya.
Bencana banjir dan longsor ini menjadi pengingat serius akan kerentanan Kabupaten Pati terhadap bencana hidrometeorologi, sekaligus menuntut langkah mitigasi dan penanganan jangka panjang agar kerugian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan. (Juri/Jurnal)












