Jurnalindo.com, – Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar bedah buku #ResetIndonesia di Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, Minggu (25/1/2026). Kegiatan ini menghadirkan langsung salah satu penulis buku tersebut, jurnalis senior Farid Gaban.
Buku #ResetIndonesia ditulis oleh empat jurnalis nasional, yakni Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Buku ini merupakan hasil perjalanan panjang para penulis berkeliling Indonesia untuk merekam persoalan-persoalan bangsa, sekaligus menawarkan gagasan solusi untuk menata ulang arah negara.
Dalam diskusi tersebut, Farid Gaban mengungkapkan bahwa salah satu embrio gagasan Reset Indonesia justru lahir dari Kabupaten Pati. Ia menilai gerakan masyarakat Pati menjadi contoh nyata bagaimana perubahan dapat dimulai dari bawah.
“Di dalam buku ini ada tujuh gagasan utama, salah satunya tentang otonomi daerah dan pembangunan dari bawah. Apa yang sudah dilakukan teman-teman di Pati itu adalah embrio Reset Indonesia,” ujar Farid.
Menurutnya, masyarakat Pati telah meletakkan pijakan awal untuk menata ulang Indonesia melalui sikap kritis terhadap kekuasaan dan kebijakan publik. Kesadaran warga untuk berani bersuara dinilai sebagai fondasi penting perubahan.
“Apa yang dilakukan teman-teman di Pati adalah pondasi Reset Indonesia. Salah satunya dimulai dari sikap kritis terhadap kebijakan publik,” ucapnya.
Farid juga menilai perlawanan masyarakat Pati terhadap kebijakan Bupati Pati Sudewo telah menginspirasi daerah lain di Indonesia. Gerakan tersebut, kata dia, menular dan mendorong keberanian warga di berbagai wilayah untuk menolak kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.
“Dari Pati ini menular ke daerah-daerah lain. Trenggalek juga cukup bagus, mereka membuat gerakan masyarakat untuk melawan program pemerintah pusat yang tidak sesuai dengan cara berpikir mereka. Di Sangihe dan daerah lain juga mulai berani melawan,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa setelah fondasi gerakan sosial terbentuk, tantangan berikutnya adalah memperkuat konsolidasi masyarakat. Menurutnya, perjuangan melawan ketidakadilan tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri.
“Kita tidak bisa sendiri. Komponen masyarakat harus bergandengan tangan, membentuk blok yang lebih luas. Karena semakin luas, akan semakin kuat. Pasti ada perbedaan, tapi mari berpikir pada tujuan yang sama,” lanjutnya.
Farid mencontohkan, salah satu agenda bersama yang harus diperjuangkan adalah pembebasan para aktivis yang masih ditahan, serta perjuangan terhadap persoalan-persoalan daerah seperti ancaman bencana dan kerusakan lingkungan.
“Ada teman-teman kita yang masih ditahan, dan kita harus berjuang untuk mereka. Di seluruh Indonesia ada lebih dari 600 orang. Itu harus disuarakan bersama,” pungkasnya. (Juri/Jurnal)












