Jurnalindo.com, – Banjir yang melanda Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, selama hampir 10 hari terakhir mengakibatkan kerusakan parah pada tambak ikan milik warga. Sedikitnya 100 hektare tambak nila salin rusak, membuat aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh.
Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, mengatakan bahwa dari total 160 hektar tambak yang ada di wilayahnya, lebih dari 60 persen terdampak banjir. Kerusakan diperparah oleh jebolnya tanggul Sungai Desa Jepat Kidul yang mengalir di sekitar desa.
“Sekitar 100 hektare tambak terdampak banjir. Jebolnya tanggul sungai memperparah kondisi karena air meluap langsung ke area tambak,” ujar Setyo Wahyudi kepada awak media, Minggu (18/1/2026).
Ia menjelaskan, banjir tidak hanya merusak tambak, tetapi juga menghentikan aktivitas ekonomi warga. Pasalnya, sekitar 90 persen masyarakat Desa Tunggulsari menggantungkan hidup sebagai petani tambak.
“Secara ekonomi ini benar-benar lumpuh. Petani tidak bisa beraktivitas maksimal, hanya sebatas memasang waring agar ikan tidak lepas. Warga yang tidak memiliki tambak pun kehilangan penghasilan karena bekerja di sektor tambak,” jelasnya.
Akibat bencana tersebut, kerugian kolektif petani tambak diperkirakan mencapai Rp 5 miliar. Banyak ikan nila salin yang mati atau hanyut terbawa banjir, padahal sebagian besar petani sudah mendekati masa panen.
“Banyak petani tinggal menunggu panen, tapi ikan keburu hanyut. Modal pakan sudah besar, sehingga kerugian semakin berat,” ungkap pria yang akrab disapa Yudi itu.
Ikan nila salin merupakan komoditas utama yang dibudidayakan di Desa Tunggulsari. Sekitar 90 persen petani memilih nila salin karena masa panen relatif singkat dan harga jual stabil. Sementara komoditas lain seperti bandeng hanya dibudidayakan sebagian kecil petani, dengan tambahan udang vaname sebagai campuran.
Yudi menilai, tingginya banjir disebabkan oleh pendangkalan sungai yang menghambat aliran air menuju muara laut. Padahal, pemerintah desa bersama kelompok tani tambak telah melakukan normalisasi sungai sejak 2023 hingga 2024.
“Kami sudah melakukan normalisasi sungai, menanggul, dan memperdalam alur sungai dengan alat berat. Namun kekuatan alam lebih besar, sehingga tanggul yang sudah diperbaiki kembali jebol,” terangnya.
Menurutnya, perubahan kondisi alam di wilayah pesisir menjadi tantangan serius yang sulit dihadapi masyarakat desa secara mandiri.
“Dua tahun terakhir kami berupaya mencegah rob masuk desa, tetapi banjir kali ini menunjukkan bahwa daya rusak alam semakin besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya. (Juri/Jurnal)












