Sendang Sumber Sentol di Sukolilo Tak Pernah Surut, Jadi Tumpuan Air Ratusan Warga

Sendang Sumber Sentol yang berada di Dukuh Misik, Desa/Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, hingga kini tetap terjaga kelestariannya (Jurnalindo.com)
Sendang Sumber Sentol yang berada di Dukuh Misik, Desa/Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, hingga kini tetap terjaga kelestariannya (Jurnalindo.com)

Jurnalindo.com, – Sendang Sumber Sentol yang berada di Dukuh Misik, Desa/Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, hingga kini tetap terjaga kelestariannya dan tak pernah surut meskipun dimanfaatkan ratusan warga, baik dari desa setempat maupun dari luar wilayah.

Setiap tahun, warga secara rutin menggelar kegiatan triwulan bersih-bersih Sendang Sumber Sentol sebanyak tiga kali. Kegiatan ini bertujuan menjaga kelestarian alam, mulai dari kebersihan lingkungan sumber air hingga pelestarian pepohonan disekitarnya agar mata air tetap jernih dan tidak tersumbat.

Kegiatan paling besar dan meriah biasanya dilaksanakan pada bulan Apit, bertepatan dengan tradisi sedekah bumi. Pada momen tersebut, warga menggelar berbagai kesenian tradisional seperti wayang kulit dan ketoprak, yang menjadi hiburan sekaligus sarana pelestarian budaya lokal.

Sementara pada hari-hari biasa, kegiatan dilakukan secara sederhana dan hanya diikuti warga sekitar. Meski berskala kecil, kegiatan ini memiliki makna penting sebagai ajang silaturahmi dan menjaga kerukunan antarwarga, yang rutin dilaksanakan setiap Rabu Pon.

Sendang Sumber Sentol diyakini sebagai peninggalan sesepuh desa, Eyang Surgi. Dalam setiap kegiatan Rabu Pon, warga berkumpul untuk berdoa bersama dengan membawa ingkung dan brokohan sebagai wujud rasa syukur. Tradisi ini dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam setahun.

Selain doa bersama, warga juga melakukan pembersihan area sendang, seperti membersihkan ranting pohon dan endapan lumpur, guna mencegah pencemaran dan menjaga kelancaran aliran air.

Suparjo, selaku marbot atau perwakilan modin, menyampaikan bahwa Sendang Sumber Sentol dimanfaatkan sepenuhnya untuk kemaslahatan warga. Air dari sendang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga serta pengairan sawah dan ladang.

“Sendang ini pernah ditawar oleh perusahaan air minum, namun berapapun nilainya tidak akan kami jual. Ini sumber kehidupan warga dan warisan leluhur,” tegas Suparjo.

Sementara itu, Ketua JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng), Gunretno, menegaskan bahwa kegiatan bersih-bersih sendang juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan Pegunungan Kendeng.

Menurutnya, kehidupan manusia sangat bergantung pada air dan udara bersih, yang keduanya tidak lepas dari peran hutan dan pepohonan sebagai kawasan resapan air. Kerusakan hutan di wilayah hulu, kata dia, berdampak langsung pada kualitas dan keberlangsungan mata air.

“Wit-witan lan gunung iku sing nadahi udan lan dadi resapan. Yen rusak, mata air sing biyen jernih saiki dadi keruh lan kudu kerep dibersihkan,” ujarnya.

Gunretno berharap perjuangan masyarakat Kendeng tidak hanya berhenti pada penolakan aktivitas yang merusak lingkungan, tetapi juga mendorong kesadaran bersama untuk melawan penggundulan hutan dan menjaga kawasan hulu tetap hijau.

“Fungsi Kendeng iku langsung nyangkut mati-uripe masyarakat. Harapan kabeh sadar lan bebarengan njaga lan ngijokake maneh alam Kendeng,” pungkasnya. (Juri/Jurnal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *