Jurnalindo.com, – Desa Kedalon, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, kini menghadapi kondisi darurat air bersih akibat keringnya aliran Sungai Widodaren.
Sungai yang semestinya menjadi sumber kehidupan bagi ribuan warga itu kini tak lagi mengalir hingga ke hilir, memaksa warga untuk membeli air bahkan menghentikan aktivitas pertanian.
Kepala Desa Kedalon, Hartatik, menuturkan bahwa masalah ini bukan baru kali pertama terjadi. Namun, hingga kini belum ada tindakan konkret dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk normalisasi aliran sungai.
“Yang dilakukan BBWS hanya membersihkan rumput di pinggiran sungai. Tidak ada pengerukan, tidak ada pelebaran. Padahal kami di Kedalon sangat tergantung pada air dari sana,” ujar Hartatik.
Ia menyebut aliran sungai praktis hanya sampai di Desa Gunungsari, dan nyaris tidak tersisa untuk desa-desa paling hilir seperti Kedalon dan Batur Sari.
Saat musim hujan, aliran air masih bisa dirasakan warga. Namun, ketika musim kemarau tiba seperti saat ini, air menghilang dan warga hanya bisa berharap pada sisa-sisa dari desa hulu.
“Kalau tidak ada sisa air dari atas, ya kami tidak dapat apa-apa. Warga cuma bisa pasrah,” tambahnya.
Ironisnya, program air bersih dari Pamsimas juga belum bisa menjangkau seluruh kebutuhan warga. Ditambah lagi, sumur bor pun tidak bisa diandalkan karena kualitas air tanah di wilayah itu asin.
“Kami sudah coba buat sumur, tapi airnya asin. Jadi tidak bisa untuk konsumsi,” jelas Hartatik.
Dengan kondisi pertanian yang terhenti dan kebutuhan air bersih yang terus meningkat, Hartatik mendesak agar BBWS segera melakukan normalisasi Sungai Widodaren, khususnya dari Kuniran hingga ke Batur Sari.
“Kami tidak minta lebih. Cukup air bisa mengalir sampai ke desa kami, supaya masyarakat tidak terus-terusan jadi korban,” ujarnya.
Krisis air ini membuka fakta tentang minimnya perhatian terhadap infrastruktur air di wilayah pedesaan. Harapan kini tertuju pada pemerintah pusat dan daerah agar segera turun tangan dan tak lagi menunda penanganan. (Juri/Jurnal)